Judul: Little Pa

Penulis: Qomichi

Penerbit: Cabaca.id

Jumlah bab: 26



Blurb:

Sudah jatuh tertimpa tangga, setelah diusir oleh keluarganya karena rumor homoseks, Miku justru dihadapkan dengan bayi yang ditelantarkan di depan pintu rumah barunya. Hari sial itu membuat Miku menjalani lembar baru sebagai orang tua tunggal yang tak jelas kehidupannya.

Hebatnya, setelah lima tahun, anak itu mulai menanyai Miku perihal sang Mama. Teman-teman Miku menyarankan agar dia segera mencari ibu bagi anaknya. Namun, tingkah kemayu yang jauh dari kata macho membuat Miku kesulitan, belum lagi dia hanya ingin menunggu cinta pertamanya—Yolanda—kembali padanya.

Ketika Yolanda tiba-tiba kembali, perempuan itu justru mengaku jika dialah ibu kandung dari anak yang Miku rawat selama ini.

Senang? Mungkin, karena Miku punya kesempatan untuk melengkapi keluarga kecilnya dengan Yolanda. Akan tetapi, bagaimana jika Yolanda kembali hanya untuk menyakitinya lagi? 

_______________


Omong-omong, aku tahu novel ini karena direkomendasikan oleh beberapa temanku, dan baru bulan ini aku berkesempatan bacanya karena kebetulan Cabaca lagi ada program baca bareng novel Little Pa.

Pas kali pertama baca bagian prolog, aku langsung suka sama ceritanya dan penasaran sama nasib dua tokoh yang ada di novel ini, yakni Miku dan Mark. Di bab pertama, cerita berganti menjadi beberapa tahun kemudian, alias bayi yang ditemukan Miku sudah tumbuh menjadi anak laki-laki bernama Mark. Pas baca bagian awal, aku suka sama interaksi Miku dan Mark. Kenapa? Soalnya Miku tampak kelihatan tegas untuk sesuatu yang berhubungan sama Mark, termasuk alerginya sama susu.

Kalau harus mengasuh seorang bayi sendirian, aku pasti bakal bingung banget gimana caranya. Apalagi umurku sama Miku nggak beda jauh. Baca buku panduan mengasuh bayi pun kayaknya nggak terlalu works buatku. Tapi, di sini aku salut sama Miku karena dia bisa ngelakuin itu. Iya sih, Miku dibantu sama dua temannya, Dekmas dan Ricky, tapi yang punya peran paling besar kan Miku, dan dia udah berhasil mengasuh Mark dengan baik, meski ada sesuatu yang terjadi pada Mark.

Sebagai seorang ayah, Miku juga termasuk tegas dalam mendidik Mark. Dia suka bacain dongeng juga. Dongeng-dongeng dari Miku juga familier buatku, dan aku suka keputusan Miku yang berhenti ngelanjutin ending dongeng Gadis Penjual Korek Api. Soalnya ending-nya "begitu", kan? Dan detail kecil ini bikin Miku kelihatan emang tegas dan pilih-pilih mana yang baik buat Mark.

Untuk tokoh lain, aku suka sama Dekmas dan Ricky. Dulu Dekmas ngedeketin Miku karena ada maunya, dan Ricky ini si pembuli Miku bahkan yang nyebabin Miku diusir dari rumah. Tapi syukurnya keduanya jadi baik, Miku juga jadi maafin Ricky. Interaksi mereka ke Miku dan Mark tuh udah kelihatan kayak keluarga. Saking akrabnya kali, ya? Atau mungkin karena emang selama sekian tahun ini Miku dekatnya sama mereka aja, begitu juga Mark.

Selain itu, aku suka sama tindakan Dekmas yang berniat nasihati Miku. Dari awal aku suka sama sifat dia ini, meski ada satu tindakan/dialog yang menurutku "berubah"-nya cepet banget. Karena ABC, Dekmas jadi setuju aja gitu. Padahal aku ngedukung dia dari awal. Tapi nggak apa-apa, aku memaklumi sifat Dekmas. Kalau buat Ricky, aku agak kesal sih sama dia wkwk. Cuma ya nggak apa-apa lah, soalnya peran Ricky juga amat membantu.

Omong-omong soal kesal, selama baca novel ini tuh aku rasanya emang kesal wkwk. Apa ya? Lebih banyak gereget ya. Mulai dari seseorang datang ke rumah Miku sampai penyelesaian tuh aku ngerasa gereget mulu wkwk. Tapi ini kesal dan gereget yang "baik" wkwk. Karena dari situ, emosi ceritanya bisa kelihatan. Kurva ceritanya juga bagus. Cuma emang sih, tindakan para tokohnya ini bikin aku geleng-geleng. Aku nggak habis pikir sama tindakan mereka. Tapi di sisi lain, tindakan mereka ini emang "bagus" untuk perkembangan karakter Miku. Kalau nggak begitu, mungkin aku nggak akan bisa merasakan karakter Miku.

Untuk plot, menurutku udah rapi, meski ada beberapa kebetulan yang mungkin bisa jadi perbaikan untuk tulisan Kak Qomichi berikutnya. Tapi kebetulan-kebetulan yang ada di novel ini nggak mengganggu kok, jadi masih bisa dinikmati. Cuma, mengenai kebetulan ini, aku merasa di sepanjang cerita tuh perlu ada petunjuk-petunjuk tertentu yang bikin bagian penyelesaiannya ini lebih natural dan pembaca bisa lebih menikmati ceritanya.

Untuk momen yang paling kusuka, itu ada di bagian menjelang akhir. Aku pengin bahas lebih lanjut, tapi takut spoiler juga wkwk. Yang jelas, aku suka momen ini karena bisa ngasih kita pelajaran penting tentang mengikhlaskan seseorang atau sesuatu. Soalnya untuk mengikhlaskan sesuatu ini perlu usaha yang besar juga, kan? Alias nggak mudah. Jadi, pas baca momen itu, rasanya aku tertampar sekali.

Itu aja dariku. Secara keseluruhan, aku suka sama Little Pa. Aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca. Cocok dibaca pas lagi dalam keadaan fresh, tenang, atau semacamnya. Jangan baca pasti lagi sibuk atau mumet ya, nanti takut kebawa emosi hehe.