Judul : Lelaki yang Membunuh Kenangan
Penulis : Faisal Tehrani
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbitan : Cetakan Pertama, Mei 2019
Tebal Buku : vi + 282 Halaman
ISBN : 978-602-291-592-8

“Orang selalu mengatakan bahwa cinta itu buta. Namun, sebenarnya cinta itu penipu yang cerdik. Sesering apa kita mendekati orang yang kita cintai, sesering itu pula dia menjauhi kita.”


Faisal Tehrani, penulis kritis asal Malaysia, menyajikan kisah percintaan yang berbeda dari novel kebanyakan, salah satunya Lelaki yang Membunuh Kenangan, yang dibalut dengan ketengan unsur-unsur politik.

Lelaki yang Membunuh Kenangan bercerita tentang sosok Basri, mahasiswa yang berakhir lari ke luar negeri dari kejaran pemerintah karena demonstrasi yang dipimpinnya berakhir rusuh, bertemu dengan gadis bernama Basariah saat pengeboman Kota London terjadi. Pertemuan keduanya terus bergulir silih ganti sampai ada kisah masa lalu yang ternyata mengikat hubungan mereka.

Alur campuran yang dipakai untuk menceritakan kisah ini sukses membuat saya terpukau, meski pada bab-bab awal saya dibuat bingung. Unsur politik yang dominan mampu mengangkat novel ini menjadi berkelas. Setiap perkataan yang disampaikan para tokohnya pun terlihat cerdas dan bernyawa sekali. Ada beberapa bagian yang bikin saya merinding sekaligus tersentil karena membacanya.

“Selama bangsa kita tidak membuang jauh-jauh otak feodal yang terpatri dalam jiwa raga ini, selama itu pula kita tak akan mampu menyaingi bangsa lain.”—hlm. 2

Makin ke tengah, novel ini makin menunjukkan taringnya. Setiap adegan demonstrasi yang dibuat mampu membikin saya masuk ke dalamnya. Apalagi saat adegan di mana Basri menolong rekan-rekan mahasiswanya yang ditangkap polisi. Terlihat sekali jika riset yang dibutuhkan untuk pembuatan novel ini benar-benar teliti dan cerdas.
Beberapa adegan percintaannya pun sangat kuat dan emosional, terutama saat salah satu tokoh perempuan dalam novel ini memeluk Basri ketika dia bersama temannya ingin menolong rekan-rekan yang lain. Penulis juga berhasil menerabas sisi rentan tokoh protagonis dengan baik. Sisi rentan inilah yang membuat cerita makin bergulir. Bukan hanya itu, tensi yang disajikan pun berirama naik-turun, sehingga saya harus menahan napas di beberapa teman karena saking tegangnya.

“Cintamu adalah cinta yang bersemi saat kerusuhan. Cinta pada masa kerusuhan tak akan bisa kau bawa ke mana-mana.”—hlm. 187

Sayangnya, ada beberapa tempat yang terlihat kendur dan tempo cerita melambat. Selain itu, pada bagian-bagian tertentu ada narasi-deskripsi yang terlihat kering. Tokohnya pun terlalu banyak. Kalau kurang fokus, pasti bikin pembaca pusing. Ada juga bagian yang sedikit mengecewakan karena ternyata bagian itu tidak dijabarkan oleh penulis, padahal kalau dijabarkan sedikit saja, pasti sisi emosionalnya bakal lebih terasa dan lebih dalam.

Tapi, dari itu semua, yang paling saya sukai dari novel ini adalah penulis sangat berani mengangkat tema seperti ini. Tema yang diangkat sangat sensitif. Pantas saja kalau beberapa novel penulis pernah diangkat dari toko buku. Penulis juga mampu menghadirkan kritik-kritik tegas yang disampaikan dengan amat baik.

“Korupsi dan penyelewengan makin menjadi-jadi. Saya ramal, ekonomi kita akan tiarap dan pada saat itu kalau kita belum sadar juga, itu artinya kita sudah gila. Saya ulang sekali lagi. Saya prediksi, dengan kondisi ini, atas semua faktor dan kegilaan yang sedang terjadi, kita akan mengalami kemerosotan ekonomi yang dahsyat. Dan, jangan pernah menyalahkan siapa-siapa. Salahkan diri kita sendiri karena kita yang memilih mereka!”—hlm. 257

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini terlepas dari beberapa kekurangannya. Novel ini patut dibaca oleh kalangan remaja dewasa, terutama mahasiswa. Untuk membaca novel ini juga usahakan saat pikiran kita sedang segar. Jangan saat keruh, nanti yang ada bakal pusing dan terpancing oleh beberapa adegan yang ada.

Rate: 3,25 dari 5