Judul: Headline
Penulis: AZ Zahra
Penerbit: Cabaca.id
Jumlah bab: 19
Blurb:
Nama besar SMA Cendrawasih sebagai sekolah unggulan, kini tercoreng akibat kasus kematian peserta didiknya. Atas desakan orang tua murid, pihak sekolah memutuskan untuk menutup klub jurnalistik karena dinilai punya pengaruh secara tak langsung atas kematian Arini dan Bunga.
Alfa dan Gia sejak awal sudah mencium ketidakberesan atas kematian teman-temannya. Apalagi sejak ditemukan amfetamina di dalam tubuh mereka setelah dilakukan autopsi. Dibantu dengan Hanggini, penyidik BNN yang menyamar menjadi guru di SMA Cendrawasih, mereka berusaha mengungkap kasus besar di SMA tersebut.
__________
Apa yang kamu bayangin kalau di sekolahmu tiba-tiba ada kasus pembunuhan? Terus kira-kira perasaanmu gimana? Takut, ngeri, atau justru penasaran pengin ungkit kasus di balik pembunuhan itu? Tapi gimana jadinya kalau nanti kamu malah terseret sama kasus itu, atau mungkin jadi salah satu korbannya? Itulah yang terjadi di novel Headline karya AZ Zahra, yang bisa kamu baca di Cabaca.id
Ide atau premis novel ini pernah kubaca di novel lain, tapi untuk konsep detail dan cara penyampaiannya jelas beda. Apalagi pas aku baca prolog novel ini. Prolognya singkat, tapi langsung bikin aku penasaran. Sebagai pencinta novel misteri, aku langsung mulai sok nebak-nebak ceritanya bakal gimana sejak baca prolog dan blurb-nya wkwk.
Kenapa emangnya? Karena plot dan konflik di novel ini cukup rapi. Di awal-awal aku sempet bingung sama perpindahan alurnya karena pakai alur campuran, terus perpindahan "kepala" POV-nya juga mendadak gitu. Tapi, makin ke belakang aku bisa paham sama maksud penulis sehingga bisa ngikutin ceritanya. Ada beberapa bagian juga yang bikin tegang sehingga plot dan konfliknya jadi lebih asyik, contohnya di bab-bab akhir cerita, terutama pas proses penyelesaian masalahnya.
Unsur misteri di novel ini juga cukup kuat. Sebagai pembaca, aku disuguhkan sama beberapa petunjuk terkait pelaku pembunuhannya. Petunjuk-petunjuknya ini disebar dengan rapi, meski ada satu adegan yang bikin aku sempat bingung hubungannya apa. Dan ternyata setelah dibaca sampai akhir, adegan itu berupa petunjuknya. Petunjuk paling jelas yang bikin petunjuk-petunjuk lain jadi terikat dan bisa terangkum. Meski tebakanku akhirnya benar, aku tetap bisa menikmati cerita di novel ini. Soalnya cara penyampaiannya sederhana, jadi mudah dipahami.
Para tokoh di novel ini juga punya porsi yang pas. Mereka punya peran masing-masing, sehingga aku sebagai pembaca bisa mudah membedakan mereka, terutama Alfa dan Alfi, yang kupikir awalnya typo tapi ternyata adik-kakak wkwk. Sebagai protagonis di novel ini, karakter Alfa bisa kurasakan dengan jelas. Bagaimana rasa penasarannya terhadap dua kasus pembunuhan itu, bagaimana saat dirinya mendapat telepon dari salah satu temannya yang meninggal, sampai kepanikan dirinya karena suatu hal.
Tapi kalau dibilang aku suka tokoh yang mana, aku bakal jawab suka sama Hanggini. Alasannya apa? Kalian bisa baca langsung buat cari tahu hehe. Yang jelas, Hanggini emang nggak mengambil porsi yang dominan seperti Alfa, tapi perannya juga penting. Apalagi karena perannya itu, dia jadi ikut bikin ceritanya lebih bagus karena unsur misterinya jadi tambah kuat.
Adegan yang paling kusuka dari novel ini tuh pas di bagian prolognya. Soalnya lagi-lagi unsur misterinya kuat. Adegan di prolog ini bakal ada lagi di bab lainnya, tapi entah kenapa yang di prolog ini punya sensasi yang beda. Selain itu, novel ini juga punya amanat yang bagus. Amanat yang paling menonjol di novel ini nggak bisa kusebutin karena bakal spoiler banget. Intinya, amanatnya ini tentang hubungan orang tua dan anak, hubungan antarsahabat juga.
Secara keseluruhan, aku cukup suka sama novel ini. Untuk teman-teman yang baru mau pertama kali nyoba baca novel misteri/thriller, bisa banget baca novel ini. Yang jelas, aku merekomendasikan kalian untuk baca novel ini.

0 Comments