Judul: Aftertase

Penulis: Akhtarara

Penerbit: Cabaca.id

Jumlah bab: 38




Blurb:

Ditinggal nikah mantan yang udah delapan tahun berhubungan, apalagi selang beberapa bulan putus. Hitungan bulan saja! Ini Luna yang terlalu bodoh atau karena Yoga yang terlalu pintar selingkuhnya, sih? Ditambah lagi Yoga adalah Head Divisi barunya di kantor. Bagaimana bisa Luna hidup seperti itu, astaga!

Demi ketenangan batinnya, Luna memutuskan untuk rehat sejenak dengan kembali ke kampung halamannya. Tak disangka, perjalanannya kembali ke tempat dia dibesarkan membawanya kepada banyak hal. Kecintaannya pada memasak, mimpi-mimpi buruknya, termasuk jatuh cinta lagi dengan cinta monyetnya, Anggara. Hal yang seharusnya dia lupakan, karena mereka sudah terjebak dalam zona yang tidak boleh dilanggar.

Akankah Luna dapat memulai kehidupan barunya? Ataukah sisa-sisa rasa masa lalu akan terus membayanginya? Layaknya aftertaste setelah memakan sesuatu.

__________

Kira-kira kamu bakal syok nggak kalau mantanmu yang baru beberapa bulan putus dari kamu, malah tiba-tiba nikah sama pacar barunya? Terus yang langsung kepikiran sama kamu apa? Apa jangan-jangan selama ini dia berselingkuh? Atau ada hal lain yang nggak kamu tahu? Itulah yang dialami oleh Luna, tokoh protagonis dalam novel Aftertaste karya Akhtarara, yang bisa kamu baca di Cabaca.id 

Aku penasaran sama novel ini karena kovernya yang cakep. Kebetulan ada temanku yang udah baca dan katanya bagus. Akhirnya aku jadi makin penasaran. Tapi, ternyata selama baca novel ini, aku ngerasa ketipu wkwk. Hah, ketipu gimana? Kok bisa? Iya, soalnya blurb dan kovernya ngecoh banget. Ada genre lain yang hadir dalam novel ini, bahkan jadi jalan utama ceritanya.

Awalnya aku agak kaget pas baca beberapa petunjuk masalah di novel ini. Soalnya itu tadi, kok jadi masuk ke genre lain ya? Kayak nggak sesuai sama di bayanganku yang genrenya bakal romance. Emang sih ada romance-nya, tapi aku tetep aja kaget wkwk. Tapi lambat laun aku bisa menikmati ceritanya dan malah fokus ke masalah petunjuk itu, soalnya makin ke belakang petunjuknya jadi makin jelas, terutama soal dalang di balik masalahnya. Apalagi tokoh protagonis di novel ini kan juga punya trauma, dan ada beberapa kali flashback mengenai masa kecil Luna, yang bikin aku tambah penasaran dengan apa yang terjadi.

Ngomongin soal Luna, menurutku karakter dia udah tersampaikan dengan cukup baik. Cuma di sisi lain aku agak geregetan juga sama beberapa keputusan Luna, yang bikin dia jadi tambah dapat masalah. Andai dia nggak begitu, mungkin masalah-masalah yang muncul nggak akan sebanyak itu. Tapi di sisi lain, kalau Luna begitu, karakternya nggak akan berkembang dan dia nggak akan bisa belajar banyak. Selain itu, yang namanya sebuah cerita kan nggak seru ya kalau nggak ada bumbu dramanya wkwk. Jadi, meski geregetan, aku setuju dan mendukung karakter Luna yang begitu. Sementara untuk tokoh lain, aku merasa porsinya udah cukup pas.

Untuk plot dan konfliknya, aku bisa mengikuti dengan baik juga, meski ada dua hal yang kusayangkan. Apa aja? Tentang pengungkapan pelaku dan proses penyelesaiannya. Untuk pengungkapan pelaku, akan lebih baik kalau dijelaskan setelah klimaks cerita sehingga pembaca dibuat lebih penasaran dulu. Soalnya sebelum klimaks, justru kesannya kayak antiklimaks karena pembaca bakal langsung nebak kalau itu ulah si pelaku. Sementara untuk penyelesaiannya, kalau si pelaku dibuat "tobat" karena hal "itu", rasanya kurang masuk akal. Kalau tahu begitu, kenapa nggak dari awal aja kan si pelaku "disodorin" sama hal "itu" hehe. Tapi, mungkin penulis punya pertimbangan lain soal ini.

Meski begitu, ada amanat penting yang bisa kita ambil dari novel ini, terutama tentang hubungan orang tua dan anak. Hubungan keluarga gini emang selalu ada aja ya hal yang perlu kita pelajari. Yang jelas, secara keseluruhan, aku merekomendasikan kalian untuk baca novel ini. Cocok dibaca pas lagi santai.