Judul: Cinta di Keranjang Belanja
Penulis: Elisabeth Ika
Penerbit: Cabaca.id
Jumlah bab: 35
Blurb:
Kesalahan pengiriman yang dibuat karyawannya membuat Raveena Pradnya Gunawan, founder VeeStore mesti bertemu dengan Danendra Mahawira di sebuah kafe untuk menyerahkan barang yang semestinya.
Ajaibnya, pertemuan itu seperti pemantik pertemuan-pertemuan mereka berikutnya. Nendra, tanpa buang waktu, bertransformasi bukan cuma menjadi pembeli VeeStore, tapi juga teman dan sahabat yang menawarkan bahu saat Raveena merasa butuh sandaran karena tekanan-tekanan dari Yuda, pacar dan partner usaha, juga dari keluarga yang tak pernah menyetujui pilihannya untuk merintis usaha. Namun, saat hati Raveena mulai goyah, Yuda justru melamarnya. Yuda juga mengancam, kalau sampai Raveena menolak lamarannya, ia akan kehilangan impiannya selama-lamanya.
Raveena dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Menerima lamaran Yuda, dan terkurung pada hidup pernikahan kendati hubungan mereka tidak sehat, semata-mata demi VeeStore tetap terjaga, atau menuruti hatinya untuk berpisah dari Yuda dan bersama dengan Nendra, kendati ia mesti kehilangan impiannya dan mendapat kecaman dari berbagai pihak.
_______________
Ini kali pertama aku baca tulisannya Kak Elisabeth Ika. Pas baca blurb novel ini, aku langsung penasaran sama ceritanya. Apalagi kovernya juga bagus, nuansanya adem. Dan setelah baca, aku suka sama cara penyampaian dan gaya bahasa Kak Elisabeth yang asyik dan bikin betah dibaca. Kalau baca novel gitu, aku emang selalu merhatiin cara penyampaian atau gaya bahasa penulis, karena buatku ini penting banget. Soalnya dari situ, kita sebagai pembaca bisa mutusin untuk terus baca apa enggak.
Ide novel ini juga cukup segar. Tentang seorang perempuan yang ingin membangun sebuah bisnis. Aku suka sama ide bisnisnya di sini, yakni VeeStore. Di bayanganku, VeeStore tuh bisnis menengah gitu. Aku bisa ngebayangin VeeStore kayak gimana berkat deskripsi-deskripsi yang ada di novel ini, mulai dari job desc para karyawan sampai masalah yang menghampiri mereka.
Cuma, VeeStore ini bisnis yang dibangun oleh Raveena atau Vee, tokoh protagonis di novel ini, dan pacarnya, Yuda. Yap, jadi mereka buka usaha bareng. Pas tahu mereka buka usaha bareng, ada banyak hal yang langsung terlintas di kepalaku. Apa ya? Soalnya yang namanya bisnis, harus dijalani dengan baik dan matang, kan? Tapi, karena kondisinya mereka pacaran, apa nih yang bakal terjadi seandainya mereka putus? Nah, itu yang terus kupikirin sejak baca ceritanya wkwk. Tapi ini jadi taruhan cerita yang menarik, karena di bab-bab tertentu, pembaca bakal disuguhi sama kemungkinan nasib Vee ke depannya. Dan buatku itu udah bagus, karena aku jadi bisa tahu nih perkembangan karakter Vee gimana.
Ngomong-ngomong soal Vee, aku suka sama dia. Aku suka gimana dia berusaha ngebangun VeeStore sesuai sama kemampuannya. Aku juga suka motif dia bangun VeeStore. Soalnya Vee punya tujuan yang bagus, cocok banget sama karakternya yang kelihatan mandiri. Di beberapa adegan tertentu, aku suka sama penggambaran kemandirian Vee. Buat para pembaca yang suka sama tipe karakter yang girl on fire, pasti bakal suka juga sama Vee. Cuma emang sih ada beberapa tindakannya yang bikin aku geregetan, tapi geregetan di sini lebih ke kurang setuju aja sama tindakan itu, bukan karena tindakannya jelek. Malah tindakannya ini berpengaruh ke jalan cerita.
Untuk tokoh lain ada Nendra dan Yuda. Aku pengin ngomong banyak soal dua tokoh cowok ini, tapi aku takut spoiler wkwk. Yang jelas, keduanya punya sifat yang berbeda. Yang satu kelihatan punya karisma yang kuat, yang satu lagi kelihatan nyebelin. Kalian bisa tebak-tebak sendiri wkwk. Tapi, karakter mereka ini emang cocok banget dimasukin ke cerita, karena berpengaruh juga ke plot utama dan perkembangan karakter Vee. Tanpa mereka, mungkin Vee nggak akan pernah "belajar" untuk menjadi lebih baik.
Kalau soal plot dan konflik, aku cukup nggak nyangka ceritanya bakal dibawa ke sana. Soalnya selama baca tuh aku udah sok-sokan mikirin jalan ceritanya, dan pas selesai baca, aku cukup kaget karena ada hal-hal yang nggak sempat kupikirkan. Dan of course, hal yang nggak kupikirin ini bikin ceritanya jadi lebih asyik dibaca. Tapi, buat kamu yang kurang suka sama cerita slow burn, mungkin kamu bakal kurang nyaman pas baca bagian-bagian awal novel ini. Soalnya aku merasa bagian awalnya tampak slow burn. Sebenarnya slow burn nggak masalah kok, banyak juga novel romance yang slow burn kayak novel-novelnya Mariana Zapata, jadi ini lebih ke selera pembaca aja kali ya.
Adegan atau momen yang paling kusuka di novel ini ada di salah satu bagian penyelesaian ceritanya. Pas baca itu rasanya bikin aku bersimpati, tapi aku nggak tahu harus gimana karena penyelesaian di bagian itu emang udah realistis. Emang bagian apa sih? Jadi... selain konflik VeeStore, Kak Elisabeth juga masukin soal konflik keluarga. Tepatnya tentang hubungan Vee dengan orang tuanya. Dan rasanya dapat masalah keluarga kayak Vee tuh bakal nggak enak banget. Apalagi kalau dibanding-bandingin gitu. Dibandingin sama orang lain aja nggak enak, apalagi dibandingin sama keluarga sendiri.
Dan aku berharap beberapa hal di novel ini bisa dibuat lebih kuat lagi. Contohnya mengenai perlakuan orang tua Vee terhadap Vee dan adiknya. Meski bersimpati sama Vee, aku masih belum merasakan betul perasaan Vee mengenai hal ini. Andai di momen-momen tertentu masalah ini bisa lebih ditunjukkan atau di-showing, pasti hasilnya bakal lebih bagus. Selain itu, andai latar belakang salah satu tokoh cowok bisa dieksplor lebih dalam lagi, aku pasti bakal lebih bisa "memaklumi" tindakan dia yang seperti itu. Maksudnya, aku jadi paham alasan dia berbuat demikian, meski perbuatannya emang buruk.
Oh ya, hampir ketinggalan. Awalnya ada satu hal yang sedikit bikin aku bertanya-tanya, "Kok gini lagi?" Tapi ternyata pertanyaanku ini terjawab perlahan-lahan. Aku cukup nggak menyangka juga kalau ceritanya dibawa ke sana, tapi ini jadi sesuatu yang bagus karena bisa mendekatkan hubungan antartokoh di novel ini. Terus aku juga suka sama extra part-nya. Kupikir extra part-nya bakal diisi sama momen setelah semua masalah selesai, tapi ternyata enggak. Dan ini yang bikin kusuka, karena aku jadi punya pandangan lain dari salah satu tokohnya.
Secara keseluruhan, aku suka sama novel Cinta di Keranjang Belanja ini. Apalagi di novel ini juga ada amanat penting yang bisa kita pelajari. Misalnya tentang membangun bisnis, membangun kepercayaan terhadap seseorang, sampai hubungan keluarga. Jadi, aku merekomendasikan kalian untuk baca novel ini, terutama buat yang lagi bangun bisnis sama pacar hehe. Novel ini cocok dibaca pas lagi lowong.

0 Comments