Judul: The Perfect One

Penulis: AludraSa

Penerbit: Cabaca.id

Jumlah bab: 25



Blurb:

Setiap orang memiliki kriteria yang menentukan seperti apa pasangan idealnya. Begitu pula Aini Eleanor Maharani. Baginya, pasangan idealnya mesti memenuhi kriteria yang ia sebut the perfect one. Itulah mengapa ia berpacaran dengan Billy, pria pemilik usaha restoran yang ber-attitude baik, cerdas, perhatian, pengertian, sabar, dan terutama tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Zuel, sahabatnya sejak SMA.

Billy memang nyaris sempurna. Aini mencintainya sepenuh hati sehingga tak keberatan menjalani LDR dengannya. Namun, itu bukan berarti masa depan yang cerah terbentang di depan mereka. Sebab, tidak ada jalan yang mulus bagi pasangan berbeda keyakinan.

Ketika Aini mulai meragukan siapa sosok the perfect one yang selama ini ia dambakan, kesetiaan dan perhatian Zuel perlahan-lahan menawarkan sebuah kesadaran. Bahwa the perfect yang Aini cari mungkin sudah ditemukannya sejak lama. Tetapi, apa iya sosok itu adalah Zuel, sahabatnya sendiri?

_______________

Punya kriteria dalam mencari pasangan tuh wajar, kan? Soalnya gimanapun setiap orang pasti pengin punya pasangan terbaik versi mereka. Dan itulah yang dilakukan oleh Aini, tokoh protagonis di novel ini. Aini punya kriteria yang dia namakan the perfect one. Pokoknya kalau ada laki-laki yang nembak dia, laki-laki itu harus memenuhi kriteria the perfect one. Cuma masalahnya, bisa nggak nih Aini dapat laki-laki the perfect one itu kalau sahabatnya, Zuel, ngintilin dia melulu? Penasaran sama kisah Aini?

Awalnya aku nggak berekspektasi apa-apa pas baca novel ini. Soalnya aku mau menikmati ceritanya aja, nggak mau nebak-nebak segala macem karena takut kecewa. Tapi, kok ceritanya malah seru, makin ke belakang makin seruuu. Akhirnya aku berusaha nebak-nebak dah wkwk. Dan tebakanku bener, soalnya trope begini tuh emang udah nggak asing banget, kan? Emangnya trope apa sih? Yap, friends to lovers. Trope yang udah sering dipake di banyak novel romance. Terus kalau sering dipake, apa bikin novelnya jadi kurang bagus? Oh tentu enggak. Trope itu kan cuma sebagai "alat bantu", jadi nggak ada hubungannya sih.

Seperti kebanyakan novel dengan trope friends to lovers, tentu dong ada hal-hal atau tindakan-tindakan sahabatan yang bikin gereget gitu. Di novel ini, tindakan Aini sama Zuel tuh asyik diikutin. Aini nggak akan kaget kalau tiba-tiba Zuel ada di dalam apartemennya. Aini juga nggak kaget kalau di tempat cuci piringnya ada bekas piring kotor yang abis dipake sama Zuel. Sebebas itukah? Kalau dibilang "bebas" kayaknya enggak ya, karena Aini dan Zuel pun sebenarnya masih punya batasan tertentu. Tapi, interaksi mereka tuh emang deket banget. Udah kayak keluarga pokoknya. Apalagi Aini juga deket sama ibunya Zuel.

Untuk plot dan konfliknya rapi. Sama kayak formula romance pada umumnya, cuma ada satu-dua hal yang di luar dugaanku sih. Kayak aku nggak nyangka kalau ada tokoh yang ngelakuin tindakan ini dengan alasan tertentu. Terus di beberapa bagian, aku jadi ikut geregetan sama ceritanya. Apalagi pas bagian dark moment wkwk. Asli sih, bagiku keseruan trope friends to lovers tuh ada di bagian menuju dark moment sama dark moment-nya. Soalnya kayak beda aja gitu rasanya, karena kan para tokohnya dulu udah saling kenal. Dan oh ya, terus ada salah satu tokoh di sini yang ngelakuin tindakan yang emang bakal bikin gara-gara banget. Tokoh yang nggak bakal disukai sama para pembaca sih wkwk. Tapi tokohnya emang penting. Ya mau gimana lagi, kan? Soalnya emang itu kebutuhan ceritanya.

Dari novel ini, kita juga bisa belajar banyak hal, terutama tentang hubungan sahabat. Sahabatan antara cewek dan cowok tuh emang udah nggak asing lagi, kan? Tapi sahabatan versi Aini dan Zuel ini kelihatan cukup beda. Cuma ya, yang namanya sahabatan pasti punya masalah juga, kan? Hehe. Dan ada satu hal yang cukup bikin aku kurang nyaman sama ceritanya, yakni bagian penyelesaian. Aku cukup suka sama klimaksnya, tapi pas baca penyelesaiannya aku jadi ngerasa "kurang percaya" sama tindakan salah satu tokohnya. Soalnya kayak cepet banget, selesai gitu aja. Padahal di awal tuh cara ngebangun konfliknya udah asyik. Tapi, mungkin ini masalah selera aja.

Yang jelas, aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca. Cocok dibaca pas lagi nyantai atau pas malmingan sama pacar biar baca bareng hehe.