Judul: Janda Ketemu Duda

Penulis: Icha Rizfia

Penerbit: Cabaca.id

Jumlah bab: 35



Blurb:

Kata siapa pernikahan berbanding lurus dengan happily ever after? Belum genap dua puluh empat jam jadi pengantin baru, Mala dilabrak oleh seorang wanita asing yang mengaku sebagai istri sah suaminya. Terkhianati dan dipermalukan di depan keluarga dan para tetangga, pupuslah happily ever after pada pernikahan Mala detik itu juga. Meski masih gadis, Mala sudah menjadi janda.

Angga tidak lebih beruntung. Belum juga malam pertama terlaksana, kediaman Angga disambangi pria tak dikenal yang mencari-cari istrinya dengan amarah menggelora. Saat berhasil menemukan mereka, pria itu berteriak pada Angga, "Dia cewek gue, lagi hamil anak gue! Kenapa malah lo yang nikahin, berengsek!" Maka happily ever after pernikahan Angga pun pupus juga, dan ia menjadi duda.

Dua orang itu dipertemukan oleh sebuah helm. Iya, helm. Angga meminjam helm Mala karena katanya helmnya hilang di tempat parkir. Gara-gara itu, Mala pulang tanpa helm dan terjaring razia. Meski helm itu akan diganti, Mala telanjur kesal pada Angga. Herannya, setiap kemarahan Mala justru bikin Angga hepi. Padahal, biasanya, nih, kalau awalnya berantem-berantem lucu gitu, ujung-ujungnya jadi … cinta, kan?

Tapi, memangnya jatuh cinta dan menjalin kasih setelah berstatus janda dan duda, bakal semudah itu?

_______________

Pasti nyesek kan pas kita udah nikah sama orang tercinta, tapi malamnya tiba-tiba ada orang yang datang dan ngaku kalau dia suami/istri dari pasanganmu? Artinya, pasangan kita udah nikah sebelum nikahin kita, dan mereka belum bercerai. Terus kita gimana? Yap, jadi suami/istri kedua. Tapi, tapi... emangnya kita mau diduain gitu? Nggak, kan? Jadi, mungkin kita bakal lebih milih pisah alias cerai. Dan itu yang dirasakan oleh kedua tokoh protagonis di novel ini, Mala dan Angga. Cuma bedanya, "mantan" istri Angga ini belum nikah, tapi udah hamil duluan sama laki-laki lain.

Pas baca tiga bab pertama novel ini, aku langsung sukaaa. Soalnya sebagai pembaca aku langsung disuguhi sama kondisi para tokohnya sebelum "kekacauan" terjadi. Tepatnya novel ini kan dibuka sama pernikahan Mala dengan suaminya dan Angga dengan istrinya, terus tiba-tiba masalah atau konflik utamanya muncul. Selain itu, yang terpenting, ceritanya asyik dan gaya penyampaiannya mengalir. Kayak tahu-tahu udah ganti bab aja gitu.

Pas sama-sama udah bercerai, Mala dan Angga ini ketemu lagi. Awalnya mereka ketemu gara-gara helm. Dan seperti kisah romance lainnya, dari situ mereka mulai dekat. Yap, Angga sih yang nyoba pedekate duluan, dengan gayanya yang cukup narsis dan pede banget wkwk. Tapi aku menikmati momen mereka ini, sampai orang ketiga muncul di antara mereka. Kemunculan orang ketiganya ini halus gitu, nggak ujug-ujug. Apa ya? Intinya pas kubaca tuh aku nggak langsung menangkap kalau dia bakal jadi orang ketiga. Jadi cara penulis masukin peran orang ketiganya ini udah bagus menurutku. Apalagi ada "kejutan" dari si orang ketiga ini.

Untuk plot dan konfliknya sederhana aja kok, tapi seperti yang kubilang sebelumnya, tetep asyik diikutin. Apalagi pas percikan-percikan cemburu atau benih-benih cinta itu muncul, jadi makin seru lagi. Cuma di sisi lain tuh emang ada bagian yang bikin gereget ya wkwk. Contohnya pas adegan masak-masak di rumah Angga. Karena belum jago masak, Mala masih kesusahan ngimbangin mamanya Angga sama salah seorang tokoh di sana. Dan sebagai seorang ibu, pasti mama Angga ini mau yang terbaik buat anaknya, kan? Dari novel ini, aku nangkepnya versi terbaik menurut mama Angga tuh salah satunya cewek harus bisa masak. Tapi, di sini Mala belum belajar banyak soal masak, jadi mama Angga kurang suka.

Tapi... ada hal lain yang bikin Mama Angga ini makin nggak suka sama Mala, dan ini jadi konflik sekunder di ceritanya sekaligus konflik yang bagiku menarik buat disoroti. Emang konflik apa sih? (Aku nggak tahu apakah ini spoiler apa enggak, tapi semoga enggak ya hehe) Konflik tentang mama Angga yang nggak suka sama status janda. Di sini, mama Angga menganggap kalau janda tuh jelek, nggak pantes buat Angga. Intinya begitu, dan ini seru sih diikutin. Soalnya ada adegan yang bikin aku ketawa juga pas di bagian menuju penyelesaian wkwk.

Cuma emang sih ya, nggak tahu kenapa "label" janda atau duda begitu kadang selalu dianggap jelek atau semacamnya. Padahal mah nggak begitu, kan? Kalaupun ada yang berperilaku kurang baik, itu balik lagi ke sikap dan tindakan orangnya, bukan dari "label"-nya itu. Dan bagiku di novel ini udah dijelasin dengan baik, apalagi ada penjelasan dari ayahnya Angga.

Untuk penyelesaiannya aku cukup suka. Sesuai sama jalan ceritanya. Tapi, menurutku novel ini bakal kerasa kurang cocok buat para pembaca tertentu, terutama di bab-bab akhir (maaf aku lupa tepatnya bab berapa hehe). Soalnya ada kata-kata atau lelucon you-know-what yang mungkin bikin kurang nyaman. Terus ada adegan "you-know-what" yang cukup mengganggu. Mungkin ini bisa dijadikan PR buat penulis untuk lebih mempertimbangkan lagi mengenai konten ceritanya, karena setahuku untuk bikin adegan semacam itu ada cara mainnya.

Itu aja dariku. Yang jelas aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca. Cocok banget dibaca pas lagi senggang atau pas mau jernihin pikiran.