Judul: Runaway
Penulis: Ayesha Sophie
Penerbit: Cabaca.id
Jumlah bab: 20
Blurb:
“Ada orang jahat yang menginginkannya. Virus itu tak boleh sampai ke tangan mereka.”
Suatu malam keluarga Karin dibantai oleh pihak yang menginginkan virus hasil penelitian sang ayah. Lari hanyalah satu-satunya pilihan tersisa, sebab gadis tiga belas tahun tersebut harus membawa virus itu ke Surabaya untuk dimusnahkan. Ditemani Jonas—lelaki yang bekerja di sindikat perdagangan gelap—mampukah Karin menyelamatkan dunia dari kehancuran?
_______________
Aku tertarik baca karena blurb-nya bikin penasaran. Penasaran karena bahas virus dan sindikat perdagangan gelap, terus ada pelariannya. Apalagi beberapa waktu lalu kita sempet ada pandemi, kan? Jadi, pas baca prolog dan bab pertamanya, aku langsung keinget sama masa-masa pandemi plus jadi keinget sama teori-teori konspirasi yang bersebaran di medsos hehe.
Tapi, novel ini emang langsung ngingetin aku sama hal itu. Soalnya novel ini tuh termasuk tipe novel yang seram, padahal genrenya bukan horor. Dan aku suka sama konsep novel yang begini. Apa ya? Agak susah jelasinnya, tapi novel ini bisa bikin kesan menakutkan kalau konflik utama di ceritanya beneran kejadian di dunia nyata. Soalnya pas aku tahu teori-teori konspirasi soal COVID aja rasanya anu ya, jadi agak ovt hehe. Apalagi kalau misal beneran ada, parah banget sih.
Tapi, ide novel ini emang asyik. Kalau bacanya pas masih pandemi, pasti lebih "asyik" sih karena ada sensasi tersendiri. Apalagi di bagian-bagian awal novel ini tuh ada yang to the point banget, dan aku agak kaget bacanya wkwk. Soalnya kukira penulis mau sensor penyebutan itu (meski sebenarnya udah disensor juga sih, tapi penyebutan nama negaranya bikin orang kepo wkwk).
Dan omong-omong tentang asyik, gaya bahasa atau cara penyampaian penulis menurutku cukup mengalir. Aku bilang cukup karena ada beberapa hal yang lumayan mengganggu kenikmatan membacaku, alias aku kurang nyaman bacanya. Terutama bab-bab awal cerita. Tapi, makin ke belakang aku makin menikmati gaya ceritanya. Mungkin karena udah terbiasa kali ya, jadi pas di awal-awal itu aku butuh penyesuaian dulu.
Oh ya, novel ini ditulis dari tiga sudut pandang yang berbeda. Dari Karin, Jonas, sama satu tokoh lain. Aku sebenarnya agak bingung sama pemilihan sudut pandang ini sih, karena tone suara mereka kelihatan sama dan pergantian POV-nya bikin kurang nyaman juga. Plus, aku kurang menemukan alasan yang memang membuat cerita ini harus pakai POV 1 dari tiga sudut pandang. Tapi mungkin penulis punya pertimbangkan lain sehingga memilih POV yang begini. Tapi aku pribadi prefer sama POV 3.
Untuk tokoh, aku suka sama Karin. Gimana perasaan Karin yang awalnya takut dan bergantung sama Jonas, sampai akhirnya dia punya keberanian untuk mengatasi permasalahan ini. Padahal usianya juga masih muda. Selain itu, cara penulis menyampaikan ceritanya juga bikin karakter Karin kelihatan berkembang.
Terus aku suka sama bagian pas Karin ngikutin Jonas. Apa ya? Aku suka bagian itu karena menurutku bagian itu tuh kelihatan kayak di film banget. Aku bisa ngebayangin dengan jelas juga pas Karin bilang kalau orang tua dan kakak-kakaknya udah meninggal. Rasanya nyes ya, tapi aku paham juga kenapa Jonas bertindak demikian.
Sementara untuk plot dan konflik, ini udah cukup rapi. Adegan kejar-kejarannya bikin deg-degan dan bikin agak khawatir sama para tokohnya. Tapi ada beberapa hal yang membuatku cukup bingung, terutama di bagian tempat *tettt (aku nggak bisa jelasin ini karena bakal spoiler hehe). Tapi, selebihnya aku menikmati cerita ini sih. Karena pembaca dibawa ke sana kemari buat ngikutin para tokohnya.
Untuk amanat, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari novel ini. Tapi aku cuma bisa kasih tahu amanat yang udah jelas muncul di bab-bab awal, soalnya aku nggak mau spoiler juga wkwk. Amanatnya ini bisa kita tangkap secara tersirat sih, mengenai sebuah keputusan. Di mana di sini Karin mesti membuat keputusan antara menyerahkan virus itu atau enggak. Kalau dia menyerahkannya, virus itu akan dimanfaatkan dengan nggak baik dan perlahan-lahan dia bisa mati. Sementara kalau dia tetep nggak menyerahkannya, dia juga pasti bakal dibunuh. Jadi, keputusan ini yang bisa kita pelajari. Dari Karin, kita bisa belajar soal mengambil keputusan yang tepat, dengan "efek" atau "dampak" yang lebih baik.
Secara keseluruhan, aku suka sama novel ini. Aku merekomendasikan kalian untuk baca novel ini~

0 Comments