Judul: Sadirah
Penulis: Johanes Jonaz
Jumlah bab: 30
Baca di: Cabaca.id
Blurb:
Jika kamu bertanya kepadaku, bagaimana aku mencintai Mruwak, maka akan kuajak kamu duduk di pondokku, di bawah kaki Gunung Wilis ini. Dengan segelas kopi yang kuambil dari hutan dan sekerat ketela rebus. Akan kuceritakan kepadamu kisahku. Kisah tentang cinta seorang warok dan anak perempuannya terhadap desa kelahiran mereka. Cinta mereka sama besar, tetapi cara mereka mencintainya berbeda. Seperti dalang yang berada di balik kelir, Wongso Ngadiman membuat anak perempuannya menjadi tokoh utama untuk sebuah pertunjukan besar. Ya, pertunjukan penuh darah dan pengorbanan sebesar Gunung Wilis untuk sebuah tujuan mulia.
Aku, Nyai Mruwak, akan membawa kalian pada stambul yang tak pernah kalian bayangkan.
_______________
Sejujurnya aku termasuk pembaca yang jarang baca novel bergenre historical fiction. Novel hisfic terakhir yang kubaca tuh The Seven Husbands of Evelyn Hugo-nya Taylor JR, itu pun sekitaran pertengahan tahun lalu. Terus pas baca blurb dan bab pertama Sadirah, aku jadi tertarik mau baca novel ini sampai tamat.
Kenapa aku tertarik? Karena kesan pertamaku pas baca bab pertama Sadirah tuh ini: "Penulisnya gokil, risetnya pasti dalem banget." Yap, aku langsung salfok sama narasi yang ditulis di novel ini, karena kelihatan banget hasil riset penulisnya gimana. Aku salut banget sama penulis yang bener-bener fokus riset dengan detail dan berhasil menyampaikan hasil risetnya itu dengan baik dan sesuai sama kebutuhan cerita. Dan aku penasaran gimana cara penulis riset novel ini.
Untuk ide, bagiku Sadirah ini punya ide yang menarik juga. Tentang seorang warok, gemblak, dan sebagainya sampai membahas soal kepemimpinan sebuah desa. Yap, ide yang kaya seperti ini bagiku menarik banget, apalagi dikemas dengan apik. Sepanjang baca, aku dapet ilmu baru juga, yang mungkin nggak akan kuketahui kalau nggak baca novel ini. Dan ini jugalah kelebihan novel hisfic, terutama yang mengangkat latar atau sejarak lokal, dibandingkan dengan novel bergenre lain. Tapi bukan berarti aku bermaksud merendahkan genre lain ya.
Untuk karakter tokoh, aku suka banget sama Wongso Ngadiman. Oke, awalnya aku emang kurang suka sama dia karena perilakunya yang keterlaluan banget. Aku bahkan sampe mau maki-maki dia pas baca salah satu bab di novel ini wkwk. Tapi, perlahan-lahan kekesalanku sama Wongso Ngadiman jadi memudar. Kenapa? Ini bakal spoiler banget sih kalau dijelasin. Tapi yang jelas, karakter Wongso Ngadiman ini punya peran yang kuat, yang bisa kurasakan selama membaca latar belakangnya. Untuk tokoh lain ada yang kusuka juga, tapi cuma sekadar suka dan nggak sesuka ke Wongso Ngadiman.
Selain itu, plot dan konfliknya pun asyik diikutin. Dan makin ke belakang, ceritanya jadi makin bikin penasaran dan makin intens. Yap, sebagai pembaca yang jarang baca hisfic, Sadirah ini kayak punya magnet yang bikin aku untuk terus baca, terutama bab-bab menjelang akhir.
Dan di pertengahan cerita, aku kaget karena ceritanya dibawa ke situ. Aku nggak kepikiran sama sekali sih, tapi dari situ aku mulai menerka-nerka arah ceritanya. Tebakanku emang bener, tapi aku tetep suka sama Sadirah ini. Karena ternyata ada konflik-konflik baru yang disuguhkan, dan bikin tensi ceritanya meningkat. Bagiku, ini termasuk hal yang susah ditulis. Jadi aku mau mengapresiasi penulis untuk hal ini.
Sementara untuk amanatnya, ini banyak banget sih. Aku nggak bisa jabarin satu-satu, tapi yang jelas aku suka dengan amanatnya tentang mempertahankan "harga diri". Ini dalem banget sih, dan baru bisa kita temui saat sudah selesai membaca ceritanya. Dan untuk bagian yang paling kusukai ada di bab-bab akhir, meski aku merasa bab-bab akhirnya masih bisa dikuatkan lagi. Tapi nggak apa-apa, karena menurutku yang ada di ceritanya juga udah bagus.
Intinya, secara keseluruhan, aku suka sama Sadirah. Sebuah novel hisfic yang wajib dibaca sih, terutama buat penggemar hisfic. Dan yang jelas, aku merekomendasikan kalian untuk baca Sadirah. Wajib!

0 Comments