(REVIEW BUKU)
Judul: Evergreen
Penulis: Prisca Primasari
Jumlah bab: 29 + epilog
Baca di: Cabaca.id
Blurb:
Evergreen berlatar di Tokyo, Jepang, tahun 2011. Bercerita tentang Rachel Yumeko Rivière, seorang wanita muda dengan sifat egois dan menyebalkan. Suatu saat, dia dipecat dari pekerjaannya sebagai editor fiksi. Hal itu membuatnya begitu marah dan frustrasi. Rachel tak henti menyalahkan dunia atas kemalangannya itu.
Namun, kemudian, dia menemukan sebuah kedai es krim cantik bernama Evergreen. Di sanalah dia bertemu para pelayan, pembuat es krim, juga pemilik kedai yang sangat ramah dan menyenangkan. Mereka semua menunjukkan Rachel pelajaran tentang kebaikan hati. Tentang kesederhanaan, persahabatan, memaafkan, juga cinta sejati.
_______________
Ini kali keempat aku baca tulisannya Kak Prisca Primasari, dan aku selalu suka sama cara penyampaiannya. Sederhana tapi asyik, dan di bagian-bagian tertentu ada detail yang terkadang bikin aku jadi langsung merasa "wah" sama tulisan Kak Prisca. Selain itu, di Evergreen ini nuansa ceritanya nggak jauh beda sama buku-buku Kak Prisca yang pernah kubaca. Ada sensasi hangatnya, sedihnya, manisnya juga ada. Dan aku selalu suka juga sama nuansa yang dihadirkan di ceritanya. Nggak pernah nyesel baca tulisannya pokoknya.
Oh ya, Evergreen ini bercerita tentang seorang perempuan yang awalnya bekerja di sebuah penerbitan buku, tepatnya seorang editor. Setelah dipecat dari pekerjaannya, si perempuan ini datang ke sebuah toko es krim bernama Evergreen. Lalu dari situ, pembaca diajak untuk menelusuri kisah si perempuan tadi dan beberapa tokoh yang pernah "datang" ke Evergreen, baik pegawainya atau pelanggannya.
Ide cerita Evergreen ini pernah kujumpai di novel-novel lain. Tapi, bagiku ada hal baru yang Kak Prisca hadirkan untuk cerita ini. Karakter orang-orang yang bekerja di Evergreen. Tokoh/karakter di novel ini tuh ada cukup banyak, tapi aku bisa mengenal kepribadian mereka masing-masing. Soalnya gaya bicara mereka beda, latar belakang mereka beda, bahkan sikap mereka juga beda. Ada yang ketus, ada yang ramah, bahkan ada yang suka menggoda. Dari situ, tanpa tahu namanya pun sepertinya aku bisa hafal siapa tokoh yang lagi ngomong. Dan menurutku ini termasuk poin plus yang wajib dimiliki setiap penulis.
Dan omong-omong soal latar belakang tokoh, dari empat novel Kak Prisca yang udah kubaca, pasti ada aja tokoh yang "sakit" gitu. Entah ini perasaanku aja atau enggak, tapi setiap baca tokoh "ala" Kak Prisca tuh aku jadi bisa merasakan kesedihannya. Dan di novel ini, aku jadi ikut bersimpati sama salah satu keluarga pegawai yang bekerja di Evergreen. Apalagi pas makin ke belakang, aku jadi makin bersimpati pas tahu kenyataannya gimana.
Untuk tokoh favorit sebenernya nggak ada, tapi aku suka sama hampir semua para tokohnya. Eh, tapi ada sih yang sedikit menarik perhatianku. Siapa? Aku nggak mau sebut nama, tapi dia tuh sosok yang menurutku punya sebuah luka, tapi dia bisa nutupin luka itu di depan semua temannya. Bahkan kayaknya dia tuh kelihatan hepi-hepi aja, padahal pas ada satu pembahasan tentang topik tertentu, aku tahu rasanya jadi dia tuh pasti "nyes" banget.
Untuk plot, menurutku rangkaiannya jelas dan nggak ada hal yang "sia-sia", alias plotnya tampak solid. Sementara untuk konfliknya bisa dibilang nggak ringan, nggak berat juga. Nggak ringan karena ada topik sensitif yang dibahas, nggak berat karena cara penyampaiannya mengalir dan mudah dipahami. Dan meski Evergreen bukan tipe cerita dengan plot yang kompleks atau konflik yang dar-der-dor, aku tetep suka sama Evergreen. Bagiku, tipe cerita sejenis Evergreen ini memang ya begini harusnya.
Terus apa yang bisa dipelajari dari novel ini? Ada banyak, tapi yang paling menonjol di cerita ini tuh tentang keluarga dan tentang bagaimana kita bisa bertanggung jawab serta berperilaku baik terhadap segala hal yang mendekati kita.
Itu saja dariku. Gimana? Penasaran mau baca? Kalau mau, kalian bisa baca novel ini di Cabaca. Aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca saat sedang santai atau punya waktu senggang.

0 Comments