Judul: Saki
Penulis: Idha Febriana
Jumlah bab: 31
Baca di: Cabaca.id
Blurb
Setelah beasiswanya dicabut karena ulah Zayyan, Adhia pergi dari rumah. Didera rasa bersalah, Zayyan bersedia membantu menemukan Adhia dan membujuknya pulang. Namun, saat membaca buku harian cewek itu, Zayyan ragu dapat melakukannya.
Di tengah berbagai dugaan tentang alasan Adhia pergi, Zayyan kembali dikejutkan dengan berita hilangnya beberapa pengguna Saki. Termasuk di antaranya, cewek-cewek yang sempat disebut Adhia dalam tulisannya. Zayyan mencari tahu, kemudian menemukan fakta mengejutkan lainnya.
Papanya berbohong tentang Javiar, kakak Zayyan. Sepatu yang mirip dengan milik Adhia di apartemen Javiar. Hubungan Jo dengan Javiar. Semua pencarian Zayyan mengerucut pada satu nama.
_________________________
“Anak-anak bukan komoditi, Pa. Juga bukan barang koleksi yang bisa dipamer-pamerkan. Tentu aja kami butuh fasilitas dan uang dari orang tua, tapi secukupnya. Yang paling penting, kami cuma butuh didengar.”
Saki adalah novel kesekian Mbak Idha yang kubaca. Seperti novel Mbak Idha lainnya, gaya bahasa di novel Saki ini terasa mengalir. Mbak Idha menuliskan kisah novel ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas dan sudut pandang orang pertama. Uniknya, Mbak Idha menggunakan sudut pandang orang pertama ini dari sebuah diari atau catatan tokoh protagonisnya, Adhia. Menurutku, hal ini jadi sesuatu yang cukup unik. Selain itu, penyampaian deep POV-nya juga terasa sehingga aku bisa menikmati cerita ini dengan lebih dalam.
Ide dan tema novel ini sebenarnya pernah kutemui di novel lain. Namun, Mbak Idha membawa hal baru untuk novelnya sehingga novel ini jadi terasa berbeda. Dan aku jadi suka sama idenya. Mbak Idha juga membuat plot dan konflik yang berlapis, sehingga jalinan ceritanya tampak kompleks dari awal sampai akhir.
Yang kusuka, Mbak Idha sudah menyuguhkan sesuatu yang “menusuk” di bab pertama novel ini. Kubilang “menusuk” karena bagiku bab pertamanya ini jadi sebuah senjata yang membuat pembaca langsung tertarik. Nggak cuma itu, di bab-bab berikutnya bahkan lebih “menusuk” dan lebih dalam. Aku bisa merasakan perasaan para tokohnya. Saat mereka gelisah, takut, sedih, bahkan marah. Bagiku, Mbak Idha sudah berhasil membuat emosi pembaca naik-turun, dan itu termasuk keberhasilan penting yang amat perlu dipertahankan seorang penulis karena untuk membuat hal itu tuh amat susah dilakukan.
Ngomong-ngomong soal tokoh, aku nggak tahu mana tokoh yang kusuka. Lho kenapa? Soalnya tokoh-tokohnya bagiku menyebalkan wkwk. Tapi, menyebalkannya ini dalam arti positif. Soalnya sisi “menyebalkan”-nya ini termasuk kebutuhan cerita. Dari motif dan tindakan para tokohnya tuh jadi hal yang wajar bikin mereka tampak menyebalkan. Jadi, kalau nggak menyebalkan, justru ceritanya akan kurang menarik. Dan Mbak Idha berhasil juga membuat pembaca kesal sama para tokohnya wkwk.
Untuk adegan favorit, jujur aku suka adegan-adegan dari bab awal sampai bab dua puluh. Kenapa? Selain tensi dan temponya bagus, aku suka cara Mbak Idha menggambarkan tindakan para tokohnya. Jadi, hampir semua adegan di situ aku suka. Cuma kalau ditanya apa yang paliiing kusuka, jawabannya saat Zayyan membaca diari Adhia. Alias, saat Adhia menceritakan soal kisah teman-teman di grup Saki-nya. Kenapa aku suka banget sama bagian itu? Karena pas baca rasanya nyeeeeees. Aku nggak bisa bayangin kalau diriku atau bahkan orang terdekatku ada di posisi mereka. Aku juga sempat berkaca-kaca pas baca interaksi Zayyan dengan papanya. Bagiku, dialog-dialog yang Zayyan keluarkan buat papanya tuh terasa dalam banget. Apa ya? Kayak segala hal yang sudah dipendam sejak lama, akhirnya keluar juga. Iya, kayak gunung meletus. Pas “lahar” Zayyan keluar, aku jadi sedikit lega. Soalnya cemas juga. Kenapa emangnya? Untuk lanjutannya aku nggak bisa kasih tahu karena bakal spoiler hahaha.
Seperti yang kubilang sebelumnya, plot dan konflik di novel ini tuh kompleks—bahkan menurutku novel terkompleks yang pernah ditulis Mbak Idha. Cuma, pas di bab 20-an, aku jadi kurang suka sama plot-plotnya karena menurutku terkesan buru-buru. Selain itu, kisah teman-teman Adhia juga jadi terkesan kurang kuat. Kenapa? Karena sebelumnya kisah mereka ini dijabarkan dengan detail, dan kupikir karena detail ini, akhirnya ada sesuatu yang akan membuat mereka atau Adhia memperoleh hal berarti yang bisa mendorong ceritanya lebih kokoh lagi. Tapi, ternyata nggak begitu.
Karena itu, tindakan-tindakan yang diambil Adhia di bab 20-an, menurutku, jadi terkesan kurang kuat karena aku belum merasa “terikat” dan “mewajari” hal yang dia lakukan. Padahal, kalau di dunia fiksi, aku justru suka sama karakter Adhia yang begini. Nggak, aku nggak bermaksud mendukung Adhia. Cuma, kalau di sebuah karya, perkembangan karakter Adhia tuh kentara banget, dan karena itu aku merasa tindakan-tindakan Adhia perlu diperjelas lagi agar pembaca paham apa alasan yang membuat Adhia begitu. Untuk hal ini, aku nggak bisa bahas lebih jauh juga karena takutnya spoiler wkwkwk.
Tapi, aku paham banget amanat yang mau Mbak Idha sampaikan. Sebuah amanat yang mungkin nggak bisa kita dapatkan selain merasakannya langsung. Jadi, novel ini bisa menjadi “alat” yang cocok untuk kita renungi. Dengan novel ini juga, kita diminta untuk belajar lebih bersimpati pada orang lain, pada orang-orang di sekeliling kita, dan pada diri kita sendiri. Dan yang paling nendang, menurutku, adalah amanat tentang hubungan anak dengan orang tua. Bagaimana cara kita bersikap sebagai anak yang baik, bagaimana cara kita bersikap sebagai orang tua yang baik... bisa kita pelajari juga di sini. Jangan sampai tindakan kita bisa membuat hubungan kita dengan anak atau orang tua menjadi kurang baik.
Intinya, secara keseluruhan, aku suka sama Saki. Saki jadi novel yang paling kusuka dari Mbak Idha. Iyaaa, menggeser posisi Sky Melody wkwk. Dan aku menunggu karya-karya Mbak Idha berikutnyaaaaaa. Wajib banget bikin yang tema atau kontennya serupa kayak Saki wkwk. Dan aku merekomendasikan kalian buat baca novel ini.
Cuma, meski begitu, menurutku nggak semua orang bisa cocok dengan novel ini. Soalnya ada banyak hal yang mungkin nggak bisa dibaca oleh orang lain. Ada kekerasan, perundungan, hal-hal vulgar yang berkaitan dengan seks, bahkan lebih dari itu. Jadi, sebelum membaca, sebaiknya pastikan diri kamu dulu ya. Karena aku tahu, Mbak Idha juga nggak mau kalau kamu salah mengambil langkah setelah membaca novel ini.
Dan semoga kita bisa tetap sehat selalu. Aamiin.

0 Comments