Judul: Opera San Margenia

Penulis: Ruwi Meita

Jumlah bab: 29 + Epilog

Baca di: Cabaca.id


Blurb:

Kapal pesiar itu bernama Las Olas de Estrellas. Reya beruntung mendapat kesempatan mengarungi rute Eropa dengan hotel mewah yang mengapung di atas laut itu bersama Vini, sepupunya. Namun, tak hanya menikmati fasilitas kelas atas dan pemandangan-pemandangan indah, hati Reya turut berlayar membelah segara masa lalu. Ada saja hal-hal yang ditemuinya dalam perjalanan yang mengingatkannya pada seseorang yang pernah merajut dongeng indah bersamanya. Seseorang yang tak tersingkir dari pikirannya bahkan ketika ia menemui pria baru yang penuh kejutan di kapal itu.

Sirens menumpangi kapal yang sama bersama pasangannya, seorang pengusaha batu bara yang justru menggunakan kamar mereka untuk tidur bersama perempuan lain. Mudah bagi Sirens untuk mencampakkan pria itu, sebab ia yakin hatinya sudah tak bisa jatuh cinta. Ia telah kehilangan arah sejak memutuskan untuk menjadi model majalah dewasa dan meninggalkan ibunya di Indonesia. Namun, perlahan-lahan kapal itu menyodorkannya harapan dan kemungkinan baru. Sirens bertemu seorang fotografer bernama Musha yang mengikuti tur di kapal itu demi mencari Reya. Untuk pertama kalinya, Sirens bertanya-tanya apa hatinya telah menemukan tempat untuk berlabuh.

Di atas Las Olas de Estrellas, akankah Reya mencari atau merelakan? Akankah Sirens menemukan atau kehilangan?

Kadang seseorang harus menunda waktu untuk membuktikan besarnya sebuah cinta. Semuanya adalah proses dan proses itu adalah cinta itu sendiri.

___________

“Cinta bisa menjadi rumit dan sangat sederhana. Dua versi yang berbeda namun sama-sama kompleks. Ketika cinta menjadi rumit sebenarnya dia sederhana dalam kerumitannya. Dan saat cinta itu menjadi sederhana, pada suatu ketika kesederhanaan itu akan merumit. Keduanya hanya bisa dibuktikan oleh waktu.”

Ini kali kesekian aku baca novelnya Mbak Ruwi, dan lagi-lagi, aku suka sama ide dan tema yang Mbak Ruwi pakai. Bagiku, ide dan tema tulisan-tulisan Mbak Ruwi yang pernah kubaca tuh unik-unik. Cara penyampaian Mbak Ruwi juga asyik dan mengalir, kayak tahu-tahu abis atau ganti bab aja gitu. Dan bagiku, ini salah satu poin plus yang wajib banget dimiliki oleh setiap penulis. Soalnya dengan cara penyampaian yang begitu, pembaca pasti bakal betah baca novel tersebut—dan kemungkinan besar mau baca karya-karya penulis yang lain.

Balik lagi ke novel Mbak Ruwi. Di novel ini, Mbak Ruwi masukin banyak tokoh. Tapi, para tokohnya ini punya peran yang penting sehingga kesan “banyak” yang kumaksud sebelumnya memang udah sesuai dengan kebutuhan cerita. Untuk tokoh, aku sama Reya dan salah satu tokoh laki-laki di novel ini. Kenapa aku nggak nyebut namanya langsung? Karena takutnya spoiler wkwk. Intinya, dua tokoh ini jadi bagian paling penting dalam cerita dan porsi mereka sesuai sama harapanku. Tindakan atau keputusan yang mereka lakukan juga bikin aku suka dan mewajari mereka.

Tapi kalau bahas soal tindakan atau keputusan, tokoh-tokoh lainnya juga bagus. Contohnya seperti Siren. Aku suka dia, suka cara bicara dan cara berpikirnya. Dan Siren ini termasuk tokoh yang menopang cerita. Meski ada hal-hal yang kurang kusuka dari Siren, tapi ketidaksukaanku ini terjadi karena emang “desain” karakter Siren. Jadi, Mbak Ruwi bisa membuatku hanyut sama karakter para tokohnya sampai aku jadi kesel sendiri wkwk.

Lalu bagaimana kalau soal konflik dan plot? Secara garis besar, konfliknya sebenarnya sederhana, tapi Mbak Ruwi mengaturnya sedemikian rupa sehingga konflik-konflik ini jadi tampak rumit dan berbobot. Sementara untuk plot, aku suka banget sama plotnyaaa. Dari adegan-adegan para tokohnya di tempat-tempat lain, terus perlahan-lahan mereka “bersatu” dan semua masalah jadi terungkap. Tipe plot atau alur seperti ini menurutku susah banget ditulis. Eh jangankan ditulis, dipikirinnya aja udah susah. Soalnya perlu rencana yang matang biar ceritanya nggak tampak seperti kebetulan.

Untuk adegan yang paling kusuka, ada di pas bagian klimaks. Meski menurutku adegannya bisa dibuat “heboh” lagi, tapi aku tetep suka. Soalnya bikin agak deg-degan ya. Plus, novel ini kan genrenya romance, tapi Mbak Ruwi masukin unsur-unsur misteri di ceritanya, jadi bikin pembaca kayak aku jadi penasaran sama adegan-adegan berikutnya yang bakal terjadi.

Terus apa yang bisa dipelajari dari novel ini? Ada banyaaak. Tapi aku mau bahas satu hal aja, yakni tentang kepercayaan dan kesetiaan cinta. Kedengarannya anu banget, ya? Tapi yang begini tuh ada di dunyat dan siapa tahu ada teman, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri pernah ngalaminnya.

Secara keseluruhan, aku suka sama novel ini. Aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca, terutama bagi para pencinta novel romance yang pengin baca novel dengan bumbu misteri. Dan, yang nggak kalah penting, aku jadi pengin baca novel-novel Mbak Ruwi yang laiiin!