Judul: Nasab
Penulis: Quinsha R. Shita
Jumlah bab: 21
Baca di: Cabaca.id
Blurb:
Siapa yang tidak senang kalau akhirnya dilamar? Tentu saja kata bahagia tidak bisa mendefinisikan hal ini. Itulah yang kurasakan saat Bisma, kekasih yang telah menemaniku selama empat tahun ke belakang menyampaikan niatnya untuk menikahiku malam ini.
Namun, sepertinya kabar bahagia itu telah terkikis oleh satu fakta yang membuatku tercengang. Aku, Cahaya Kehidupan, ternyata bukan anak kandung Mama dan Papa. Kedua orang yang selama 23 tahun—tanpa jeda—hidup bersamaku dan kukasihi itu tidak memiliki ikatan darah denganku.
Haruskah aku memberitahu fakta ini kepada Bisma? Di mana aku harus mencari kedua orang tuaku? Dan bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan Bisma dengan wali sah yang selama ini tidak aku ketahui di mana keberadaannya?
_______________
“Takdir memang selucu itu. Apa yang kita pikir baik, belum tentu baik bagi Allah. Sebaliknya, apa yang kita pikir buruk, belum tentu buruk bagi Allah.”
Nasab adalah novel kedua Quinsha yang kubaca. Saat kali pertama membaca bab awal novel ini, aku langsung merasa nyaman dengan gaya bahasanya yang ringan. Terlebih lagi novel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, membuatku jadi lebih menikmati ceritanya karena aku bisa membayangkan bagaimana keadaan cerita ini.
Bicara mengenai sudut pandang, menurutku pemilihan sudut pandang orang pertama dari sisi Cahaya Kehidupan, atau biasa dipanggil Aya, sudah tepat. Apalagi Aya memiliki karakter yang terkadang keras kepala, sehingga aku bisa langsung merasakan bagaimana kekeraskepalaan Aya. Sebagai pembaca, aku juga jadi merasa lebih dekat dengan dia.
Selain Aya, ada karakter lainnya yang berperan penting dalam cerita ini, yakni Bisma. Aku langsung suka dengan interaksi Bisma dan Aya di awal-awal cerita. Apalagi saat Bisma melamar Aya. Namun, terkadang kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Ya, ternyata saat Bisma melamar Aya, ada fakta mencengangkan yang harus Aya terima, yakni Aya bukanlah anak kandung dari orang tuanya. Setelah mengetahui hal itu, Aya syok dan berkata kepada Bisma dan orang tuanya kalau dia ingin menemui keluarganya di Malang sendirian. Di posisi ini, aku suka sama cara Bisma menyetujui permintaan Aya, meski pada awalnya dia kesal/marah. Kalau aku jadi Bisma pun pasti bakal berpikiran kayak dia hehe. Apa ya? Intinya tuh di sini Bisma kayak realistis aja gitu. Soalnya kan dia sebentar lagi mau menikah sama Aya.
Setelah Aya sampai di Malang, cerita masih terus berlanjut. Bahkan menurutku cerita ini baru memasuki babak kedua. Di Malang, Aya bertemu dengan Awan, sosok laki-laki pemiliki restoran tempat Aya bekerja selama di Malang. Interaksi Awan dan Aya tadinya bikin aku kesal, karena aku masih berharap Bisma sama Aya aja haha. Tapi, lambat laun interaksi mereka tampak kuat dan aku jadi suka. Selain itu, Awan memang tipe karakter laki-laki yang bakal langsung disukai.
Untuk konflik, ceritanya baru mulai memanas saat interaksi Awan dan Aya perlahan-lahan menguat. Dan di sini, aku justru merasa kesal sama para tokohnya. Kesal karena Bisma bersikap demikian, kesal juga karena Aya bersikap begitu. Intinya kesal wkwk. Tapi, kesal di sini tuh termasuk hal yang positif, karena Quinsha berhasil menyampaikan ceritanya sehingga hal-hal yang terjadi di antara para tokohnya dapat kurasakan dengan jelas. Soalnya aku juga bingung harus “berpihak” pada Bisma atau Aya.
Konflik novel ini sebenarnya cukup berat, tapi Quinsha menyajikannya dengan lebih ringan. Plot-plotnya juga cukup rapi dan bikin penasaran, meski bukan tipe plot yang dar-der-dor. Penyelesaian masalah yang dilakukan salah satu tokohnya juga bikin aku suka. Sebuah penyelesaian yang sederhana, tapi efeknya bakal beneran terasa kalau kita terapin secara langsung.
Dan bagian paling kusuka dari novel ini tuh saat para tokohnya sudah "belajar" dari masalah mereka. Sudah ada hal baru yang mereka dapatkan. Pokoknya, novel dengan tema keluarga tuh selalu bikin aku suka. Apalagi di sini kan tokoh protagonsinya mau mencari orang tua kandungnya, jadi ada perasaan yang nggak bisa dijabarin kalau aku ngebayangin diriku begitu.
Lalu apa yang membedakan novel ini dengan novel lainnya? Menurutku dari segi konten. Novel ini bukan sekadar cerita romantis yang biasa kita temui, tapi ada hal lain yang disisipkan, yakni tentang unsur-unsur agama. Aku suka saat karakter Awan dibuat alim, dan kealiman Awan itu tidak hanya disebutkan di dalam cerita, tapi juga ditunjukkan sehingga aku jadi lebih bisa membayangkan sosok Awan.
Hanya saja, menurutku novel ini bisa lebih dikembangkan lagi. Soalnya ada hal-hal yang tampak terlalu kebetulan, terutama di penyelesaian konflik utama. Selain itu, aku berharap karakter tokohnya bisa dibuat dengan lebih matang. Maksudku, biar segala sesuatu atau tindakan yang tokohnya lakukan tuh berdasarkan kebutuhan cerita. Soalnya dijelaskan kalau Bisma ini orang yang dewasa, tapi di bagian tertentu, kedewasaan Bisma jadi kurang bisa dipercaya. Kalau memang Bisma melakukan tindakan itu karena alasan tertentu, sebaiknya jabarkan lagi dengan kuat agar pembaca yakin bahwa keputusan yang Bisma ambil memang sudah benar. Begitu pula dengan tokoh lainnya.
Meski begitu, secara keseluruhan aku menikmati novel ini. Aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca, terutama bagi kalian yang gemar membaca novel romance atau semacamnya. Kalau kamu mau coba baca novel religi, bisa juga baca novel ini buat adaptasi sama genrenya.
#yandiasd #dutabacacabacajakarta #cabaca #platformmenulis #platformmembaca #reviewbuku #reviewnovel #sukabaca #bukuseru #novelseru #rekomendasibuku #rekomendasinovel

0 Comments