CERITA PENIKMAT KOPI:
REVIEW NOVEL
“PROVISO”
Judul : Proviso
Penulis : Suzie Rain
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 256 Halaman
ISBN : 978-602-06-4327-4
Blurb:
Passion Ajeng terhadap kopi sangat kuat. Ia ingin mendirikan kafe yang digemari anak-anak muda dengan berbagai ide konsep yang ia rancang sendiri. Ajeng sedemikian yakin sehingga berani menghadapi sang ayah.
Sebenarnya ayahnya bersedia mendukung, dengan syarat Ajeng harus menemukan biji kopi terbaik dan resep kopi terenak. Ajeng mulai terobsesi untuk memenuhi syarat tersebut. Ia gigih berburu berbagai macam biji kopi dan bereksperimen dengan resep-resep baru.
Hingga takdir membawa langkah Ajeng ke Kafe Omega. Di sana Ajeng bertemu orang-orang yang mengajarinya banyak hal, tidak hanya tentang kopi namun juga persahabatan. Sayangnya, urusan cinta turut mengusik kehidupan Ajeng, memperumit perjuangannya untuk menggapai impian.
Antara impian dan cinta, pilihan mana yang terbaik? Bagaimana cara menentukannya?
“Kamu harus mencarinya pakai hati. Kalau kamu selama ini menilai kopi dengan indra penglihat, pembau, dan pengecap, maka mulai sekarang gunakan juga hati.”
Proviso diawali dengan perintah Pak Danu, ayah Ajeng, yang meminta anak gadisnya untuk menemukan biji kopi terbaik dan resep kopi terenak. Hal itu membuat Ajeng terdiam dan akhirnya berusaha mencari apa yang diperintahkan ayahnya.
Lambat laun Ajeng mengikuti Bandung Coffe Expo, kompetisi pembuatan kopi yang diikuti para barista ternama. Setelah Ajeng memenangkan kompetisi tersebut, ia diminta bekerja di Kafe Omega oleh Aditya. Di sana Ajeng bertemu Gerry, chief barista di Kafe Omega.
Ya, permasalahan dimulai sejak Ajeng bekerja di Kafe Omega. Sebenarnya tidak langsung ada masalah yang besar, karena dari awal sampai halaman 80-an, cerita masih fine-fine saja. Menurutku bagian awal novel ini juga banyak humornya. Namun, setelah memasuki bagian tengah, “aura” yang disajikan terlihat berbeda. Pembawaan yang terlihat ringan, kocak, menyenangkan, berubah menjadi agak dingin.
Aku menemukan beberapa kelebihan dan kekurangan dari novel ini. Tapi, ini hanya pandanganku sebagai pembaca.
Berikut kelebihannya:
Pertama, karakter Ajeng yang gigih membuat novel ini punya kekuatan. Belum lagi tingkah lakunya bersama Denaya, sahabatnya, membuat cerita semakin hidup. Aku suka sekali dengan interaksi Ajeng dan Denaya yang terkesan natural, apa adanya, serta tetap membuat cerita mengalir sampai akhir. Apa yang mereka lakukan setiap waktunya benar-benar relate dengan kehidupan anak muda zaman sekarang.
Ajeng segera lari ke kamar, meninggalkan dapur berikut segala kekacauan yang dia timbulkan. Dengan ketergesaan orang mau melahirkan, dia menggedor pintu kamar Dena.
“Apaan sih?” Pemilik kamar keluar dengan muka penuh lipatan bantal.
“Tempat jualan alat-alat kopi yang jam segini masih buka di mana?”
“Hah, apa?” Nyawa Dena masih belum terkumpul sepenuhnya.
—hlm. 20
Kedua, aku cukup suka dengan semua tokoh dalam novel ini. Menurutku, semua tokohnya punya tujuan yang jelas, dan mereka semua tahu apa yang mesti dilakukan. Soalnya, aku cukup banyak menemui tokoh-tokoh dalam novel yang andil dan tujuannya kurang jelas, sehingga ketika dibaca cerita jadi kurang kuat.
Ketiga, alur ceritanya begitu mengalir. Setiap tindakan tokoh dan segala hal lainnya begitu mendukung cerita, sehingga aku tidak menemukan ada hal yang berlebihan dalam novel ini. Cara penyampaian yang ringan dan asyik pun membuatku betah membaca novel ini, bahkan aku menghabiskannya hanya dalam dua jam.
Keempat, ada cukup banyak pesan yang bisa dijadikan pelajaran dalam novel ini. Salah satunya ketika Denaya meminta maaf kepada Ajeng setelah berlaku kasar.
“Hai, Jeng,” bisik Dena parau. “Aku minta maaf ya, ucapanku kemarin sore nggak pantas banget.” Dena terbata saat Ajeng pura-pura membetulkan letak earphone-nya.
“It’s okay. Mau ngomong apa pun, aku tetep sayang sama kamu,” balas Ajeng lirih. Bagaimanapun, Dena adalah sahabat terbaik yang dia punya saat ini.
“Nggak masalah kalau kamu sama Adit. Aku lebih rela kehilangan dia, daripada kehilangan kamu.” Suaranya masih gugup, khas Dena kalau sedang merasa bersalah.
—hlm. 124
Kelima, konflik cerita dikemas dengan menarik meski sudah banyak yang menggunakan ide konflik seperti itu. Penyampaian Mbak Suzie membuatku paham bahwa segala sesuatunya dapat terjadi kapan pun dan di mana pun. Apa yang terjadi pada Ajeng juga pasti sudah direncanakan Tuhan.
Keenam, aku harus mengacungi jempol untuk Mbak Suzie karena kelihatan sekali kalau dia sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan riset. Ya, benar. Segala hal yang berkaitan dengan kopi dalam novel ini benar-benar membuatku paham tanpa harus membaca banyak buku seputar dunia kopi. Aku jadi tahu bagaimana cara membuat kopi yang enak, jenis-jenis kopi, dan sebagainya, padahal aku bukan penikmat kopi. Bahkan, menurutku, hal-hal tentang kopi itulah yang menjadi kekuatan utama novel ini. Andai saja Mbak Suzie tidak memasukkan unsur tersebut, pasti novel ini tidak akan menakjubkan.
“Single… apaan? Kopi ada yang jomlo juga, gitu?”
Wajah Dena yang sok polos membuat Ajeng tertawa.
“Single origin. Kamu aja yang jomlo keterlaluan,” ejeknya. “Gampangnya, single origin itu jenis varietas murni yang dihasilkan oleh satu daerah, belum tercampur sama sekali dengan biji kopi daerah lain maupun bahan campuran yang kadang dipakai oleh pabrik-pabrik besar. Pernah dengar tag line ‘kopi itu digiling, bukan digunting’? Ya, kayak gitu deh. Bener-bener dari biji kopi yang digiling, bukan dari kemasan yang bungkusnya digunting lalu tuang.”
—hlm. 15-16
Selain itu, menurutku ada beberapa kekurangan dalam novel ini. Antara lain sebagai berikut:
Pertama, hasil suntingan masih ada yang belum rapi, sehingga di beberapa tempat aku sedikit terganggu. Tapi ini bukan masalah besar.
Kedua, untuk penyelesaian cerita di antara Ajeng, Gerry, Dena, dan Adit terasa kurang dijabarkan dengan baik, terutama bagian Adit. Padahal sejak awal interaksi mereka menjadi poin yang menarik bagiku.
Ketiga, ada satu hole yang kutemui dalam novel ini. Tapi, aku nggak bisa menjabarkannya karena nanti bisa jadi spoiler. Intinya, hole ini terletak pada permasalahan Ajeng dengan Gerry dan Aditya.
Keempat, ide pembuatan kafe yang diinginkan Ajeng juga kurang dijabarkan dengan baik, padahal kalau dilihat dari blurb-nya ini bisa jadi poin menarik.
Kelima, ada satu adegan yang kelihatan diulang, padahal menurutku adegan tersebut bisa disampaikan dengan cara lain.
Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan. Overall, aku suka dengan novel ini. Kalau teman-teman sedang jenuh, coba deh baca novel ini. Karena aura fun-nya pasti bakal menular. Untuk teman-teman pencinta kopi juga wajib baca novel ini, karena di sini kalian akan mendapatkan banyak wawasan terkait kopi.
Satu kata untuk Proviso: mantaaappp!

0 Comments