AKU AKAN SELALU BERSAMAMU:
REVIEW NOVEL
“RUN, RISSA!”
Judul : Run, Rissa!
Penulis : Idha Febriana
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Terbitan : Diterbitkan Secara Digital, 2018
Tebal Buku : 169 Halaman
E-ISBN : 978-602-455-437-8
"Jangan pikirkan apa pun. I'm always with you."
Blurb:
Begitulah Rissa akan menulis jika dimintai menuliskan biodatanya. Gadis itu sangat mencintai olahraga lari, mengidolakan Dirga, kakak kelasnya yang mantan atlet lari, kemudian suka sekali mengusili Zaga yang sok perhatian padanya. Jabatannya sebagai Ketua OSIS dan klub lari di sekolah, membuatnya harus menghadapi berbagai hal. Mulai dari anak-anak bandel yang tetap merokok dan berpacaran di sekolah meski sudah diperingatkan, hingga masalah penentuan siapa yang akan mewakili sekolah untuk seleksi nasional. Apakah dirinya lagi, ataukah Patra, anak kelas X yang memiliki kemampuan setara dengannya?
Lalu, karena kedekatan Rissa dengan Zaga, rahasia-rahasia mulai terkuak. Alasan Rissa terus berlari pun akhirnya terbongkar. Hingga puncaknya, Rissa digosipkan tertangkap basah tengah berpelukan dengan Zaga di ruang klub lari yang sedang sepi. Gosip itu membuat Rissa terpaksa dinonaktifkan sebagai Ketua OSIS dan terancam tidak bisa mewakili sekolah mereka untuk seleksi nasional di Jakarta. Rissa terang-terangan menampik gosip itu. Sementara Zaga berjanji akan sesegera mungkin membuktikan diri mereka tidak bersalah agar Rissa bisa tetap berangkat ke Jakarta dan menerima tujuannya.
Run, Rissa! adalah novel fiksi remaja dengan premis yang unik. Sebab jarang sekali ada pengarang yang membuat karakter protagonis perempuannya memiliki hobi olahraga. Apalagi olahraga yang disukai karakter tersebut adalah lari. Dari situ, saya sudah tahu kalau pengarang bukan tipe pengarang stereotip.
Dimulai dengan Rissa yang melatih anggota klub lari dan sedikit pertengkaran antara Rissa dan Dirga, membuat cerita ini cukup menarik. Saya sangat suka dengan perhatian-perhatian yang ditawarkan Dirga kepada Rissa. Tidak berlebihan, tapi cukup membuat saya paham kalau memang Dirga memiliki perasaan untuk Rissa. Yang menariknya, Rissa sama sekali tidak tahu (atau sebenarnya tahu tapi pura-pura tidak tahu?) kalau perhatian Dirga bukanlah sekadar perhatian seorang kakak kepada adiknya.
Lalu karena ada sesuatu, untuk sementara waktu Rissa dan Dirga tidak bisa bertemu, dan datanglah cowok bernama Kazaga yang biasa dipanggil Zaga. Kepribadian Zaga kurang lebih mirip dengan Dirga, hanya saja ada sesuatu yang membuat mereka berbeda, dan Rissa mengetahuinya. Perlakuan Zaga dan Dirga sempat membuat Rissa risi. Namun, masalah demi masalah yang menimpa cewek itu membuat Rissa mau tak mau menerima kehadiran Zaga.
Kalau disuruh memilih, antara Rissa-Dirga atau Rissa-Zaga, saya lebih senang Rissa-Dirga. Karena Dirga jauh lebih memahami Rissa (mungkin karena sudah lama kenal juga). Tapi meski begitu, bukan berarti karakter Zaga ini lemah. Dia cowok yang pengertian dan sigap melindungi Rissa.
"Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu menangis. Memangnya itu salah? Kamu mengerjakan semuanya sendiri, menanggung semuanya sendiri, hanya untuk membuktikan bahwa kamu bukanlah seorang yang lemah. Tapi, nyatanya, Rissa di hadapanku sekarang ini adalah orang yang paling rapuh yang penah kukenal."—hlm. 63
Yang paling saya suka di cerita ini adalah interaksi antartokohnya. Meski di beberapa bagian saya merasa ada yang kurang luwes, tapi tokoh-tokohnya terasa hidup di kepala saya. Apalagi saat tokoh-tokoh tersebut mencari jalan keluar dari masalah yang berdatangan. Saya suka sekali. Khas remajanya kelihatan.
Selain itu, saya juga menyukai Rissa. Rissa digambarkan sebagai cewek tangguh namun rapuh. Dia bisa tegas dan pantang menyerah pada beberapa bagian tertentu, bisa juga sangat sensitif jika ada yang menyinggung masa lalunya. Dan menurut saya, untuk penggambaran sampai perubahan karakter, pengarang sudah sukses menyampaikannya. Kerasa sekali dari apa yang Rissa takutkan, sampai ketakutan itu berubah menjadi air mata bahagia. Ya, ada bagian yang cukup mengharukan. Dan saya suka itu.
Untuk penggambaran lingkungannya juga lumayan bisa dinikmati. Sistem OSIS-nya kelihatan sangat bagus. Dengan Ketua OSIS yang galak dan peraturan yang ketat, bikin suasananya lebih tergambar.
"Sudah berapa kali kuperingatkan, hah? Dilarang pacaran di sekolah! Apalagi, sampai ada adegan peluk dan cium-ciuman begitu. Kalian pikir ini tempat mesum, huh?"—hlm. 13
Ending-nya juga lumayan membuka pandangan saya soal cinta (cieilaaah). Tidak selamanya cinta itu harus dijawab. Kadang kala, kalau kita masih ragu untuk menerima atau menolak, diam adalah pilihan terbaik. Ya, meski mungkin nanti akan berakhir sakit hati juga.
Tapi, meski begitu, menurut saya ada beberapa kekurangan di novel ini. Pertama, saya kurang suka kalau Rissa dipanggil “Ketua” oleh anggota-anggota OSIS yang lain. Hm, bukannya apa-apa, tapi dari situ kelihatannya agak ada perbedaan kedudukan. Oke sih kalau memang dari awal di-setting begitu, hanya saja saya kurang suka. Menurut saya terlalu berlebihan untuk seorang Rissa.
Kedua, saya nggak paham kenapa Zaga bisa beberapa kali datang ke sekolah Rissa. Okelah kalau memang dia mau mendaftar di sekolah itu, tapi kalau beberapa kali datang sementara dia belum jadi siswa resmi di sekolah itu, gimana? Ini hal yang lumayan ganjil sih menurut saya, apalagi dengan sistem OSIS yang superketat, masa nggak ada pengawasan yang lebih ketat dari sekolahnya?
Ketiga, soal antagonis. Di masalah pertama, pelakunya udah terduga siapa. Terus menjelang ending, untuk masalah yang berbeda, pelakunya juga tetep sama. Saya tahu motifnya pas menjelang ending itu, tapi saya kurang suka penyampaiannya karena sudah diketahui dua kali. Jadi saya sebagai pembaca merasa agak kecewa.
Keempat, saya kurang suka cara Rissa menyelesaikan masalahnya dengan si antagonis, pas bagian dia jadi bahan gosip sama Zaga. Itu mudah banget solusinya. Tapi kalau memang pengarang ingin menyampaikan sesuatu dan akhirnya membuat solusi cerita jadi seperti itu, saya nggak masalah sih.
But, overall, saya lumayan menikmati cerita ini, terlepas dari beberapa hal yang kurang saya sukai. Cara penyajiannya sangat menarik. Dan memang sih ada beberapa kesalahan teknis yang sepertinya terlewat. Tapi itu bukan masalah besar.
Buat kamu yang senang baca cerita fiksi remaja dan kisah cinta yang antimaenstream, silakan baca Run, Rissa! dan jangan sampai ketinggalan sama yang lain. Rugi banget kalau kamu nggak baca cerita ini.
Rate: 3,25/5

0 Comments