Penulis : Mia Chuz
Penerbit : AT Press Surabaya
Tebal Buku : 349 Halaman
ISBN : 978-602-52360-2-0
“Saat ada pertengkaran dalam rumah tangga, seorang suami tidak boleh mencari-cari kesalahan istri. Justru suami harus muhasabah diri, intropeksi, apakah dia sudah menjadi suami yang baik, apakah dia sudah melaksanakan tanggung jawabnya, apakah dia sudah memenuhi hak-hak istri terhadap dirinya?”
Wedding Agreement menceritakan tentang Tari dan Bian yang dijodohkan orang tua mereka yang ternyata bersahabat sejak dulu. Di awal kisah, Bian, yang memang sudah memiliki kekasih, meminta Tari untuk menyetujui perjanjian yang dia buat, dan dalam waktu satu tahun, mereka harus berpisah agar Bian dapat menikahi kekasihnya, Sarah.
Ini pertama kalinya saya membaca cerita pernikahan versi cetak. Biasanya saya hanya membaca cerita mentahannya. Saat membaca opening-nya, saya langsung tertarik. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika suami-istri yang baru menikah, ternyata langsung membuat perjanjian, pisah kamar, dan melakukan apa saja seperti orang yang belum kenal. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya satu: penulis ingin menyampaikan ilmu yang bermanfaat. Dan benar saja, sepanjang saya mengikuti kisah Bian dan Tari, saya banyak menemukan ilmu-ilmu tersebut dan berhasil membuka sedikit pikiran saya terhadap pernikahan.
“Muliakanlah istri kita. Kita sudah mengambil dia dari ayahnya, dari keluarganya. Seorang istri bergantung kepada suami, seorang istri menjadi tanggung jawab suami. Maka berbuat baiklah kepadanya.”—halaman 201
Bicara pernikahan, siapa sih yang tidak skeptis dengan kata tersebut? Banyak orang yang ingin menikah, banyak juga yang tidak ingin menikah, karena takut menghadapi tiap masalah yang pastinya bakal berdatangan. Bian dan Tari langsung disuguhkan dengan masalah yang kian muncul. Di awal-awal saya cukup bersimpati dengan Tari karena menjadi salah satu “korban”, tapi makin ke tengah, sosok Tari berubah menjadi seorang wanita tangguh yang ingin memperjuangkan “hak”-nya. Apa yang Tari perjuangan juga tidak mudah. Ada sosok Sarah, kekasih Bian, yang juga mencintai Bian dan tak ingin ditingalkan pria itu.
Bagian Tari bertemu dengan Sarah di kediamannya menjadi titik awal Tari makin sakit hati. Yang menariknya, penulis cukup andal menarik-ulur emosi tokoh sedemikian rupa. Saya sangat suka saat di beberapa bagian tokoh Tari dibuat senang, lalu di bagian setelahnya langsung dibuat sedih. Saya sebagai pembaca jadi ikut “bergejolak” dan cukup merasakan bagaimana menjadi Tari.
Tapi, dari apa yang saya sampaikan, saya melihat cukup banyak kekurangan dari novel ini. Pertama, ada banyak ejaan yang kurang benar, sungai putih alias kelebihan spasi di beberapa tempat, gaya bahasa tokoh yang tidak konsisten, nama yang keliru, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan karena mengandung spoiler. Menurut saya, dari segi karakternya juga ada banyak yang kurang digali dan lebih baik dihilangkan. Contohnya Kinan. Saya tidak tahu peran dia dalam cerita itu seperti apa, karena sepanjang cerita namanya hanya disebut. Kalaupun dia muncul dalam adegan, tidak akan lebih dari satu atau dua dialog. Sangat minim dan meski dihilangkan pun tidak berpengaruh sama sekali.
Selain itu, saya cukup kecewa dengan bagian awalnya, karena “perjanjian” yang disepakati Bian dan Tari ternyata tidak dijelaskan apa saja rinciannya. Hanya disebutkan bagian-bagian tertentunya saja. Padahal menurut saya, pembaca perlu tahu bagaimana perjanjian pernikahan mereka lebih dalam, apalagi judul ceritanya sendiri adalah Wedding Agreement. Saya juga belum menemukan sesuatu yang spesial dari novel ini, karena menurut saya lumayan stereotip, meski ada ilmu dan amanat yang disampaikan penulis.
Overall, bagi kamu yang ingin belajar hal-hal seputar pernikahan, atau yang ingin menikah tapi bingung apa saja yang harus disiapkan, mungkin bisa baca novel ini, karena isinya sangat bermanfaat. Kita akan diajak mengenal apa itu “pernikahan” dari sudut pandang agama dan solusi atas masalah yang kerap terjadi dalam pernikahan.
Rate: 2,5 dari 5


0 Comments