Penulis : Lexie Xu
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 304 Halaman
ISBN : 978-602-03-3205-5
“Aku menguatkan hati dan melangkah maju, siap melompat. Kupejamkan mata, kurasakan angin kencang di atap menerpaku. Sedikit lagi maju, aku akan mati.”
BLURB:
Giselle tidak pernah menyangka Merly akan mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atap gedung kampus. Setahu Giselle, Merly termasuk cewek ceria yang tak pernah punya masalah, tapi kenapa cewek itu bunuh diri?
Saat sedang berduka atas kematian Merly, Daryl yang sudah lama disukai Giselle, datang. Di tengah kebersamaan mereka, Giselle jadi tahu bahwa ada yang tak beres dengan kematian Merly. Ia menduga Merly tidak bunuh diri, melainkan dibunuh.
Belum sempat menguak misteri kematian Merly, salah satu sahabatnya, Ella, juga terjun dari atas gedung kampus. Kali ini Giselle makin yakin ada dalang dari kemarian dua temannya itu. Daryl dan kawan-kawannya pun merasakan hal yang sama, sampai-sampai mereka menyewa jasa bantuan Erika Guruh, hacker legendaris di kampus tersebut.
Ini adalah novel pertama Lexie Xu yang saya baca. Suatu keberuntungan bisa membaca salah satu novel seri beliau. Meski saya tahu kalau novel ini adalah gabungan dari seri-seri sebelumnya, tapi saya cukup menikmati apa yang disajikan dalam novel ini.
Menurut saya, sebagai penulis thriller-young adult, Lexie Xu punya daya tarik tersendiri. Gaya bahasa yang dia gunakan sangat ringan dan memiliki ciri khas. Saya dapat membayangkan dengan mudah adegan-adegan yang ditulis Lexie Xu di novelnya tanpa ada suatu hambatan apa pun. Sayangnya, saya melihat beberapa kekurangan dalam novel ini.
Pertama, saya sangat terganggu dengan tone tokoh Giselle dan Daryl yang tidak ada bedanya. Saya tidak dapat membedakan suara kedua tokoh tersebut. Ini termasuk salah satu yang fatal karena novel ini sendiri memakai sudut pandang orang pertama jamak. Kedua, tokoh Giselle diceritakan memiliki 4D Personality. Tapi sayangnya, saya belum merasakan apa yang dialami Giselle. Apalagi menurut saya Giselle agak sedikit bangga dengan 4D yang dimilikinya karena beberapa kali mengakui bahwa dia memang seperti itu. Ketiga, saya cukup bingung dengan adegan pembunuhan yang dilakukan si pelaku. Katanya tokoh Merly dan Ella dibunuh di atap gedung kampus dengan cara didorong, tapi kenapa saat pendorongan yang dilakukan oleh pelaku itu nggak ada satu pun yang lihat? Padahal kan banyak orang yang menatap ke atap gedung. Masa nggak ada satu pun yang tahu? Yang paling ganjil saat pembunuhan Meryl. Belum lagi ternyata motif pelaku melakukan pembunuhan tersebut agak kurang bisa diterima dan terlihat dipaksakan agar cerita berseri ini terus berjalan.
Tapi, untuk penulis sekelas Lexie Xu, penyajian dan ungkapan-ungkapan misteri yang dia suguhkan menurut saya cukup rapi. Plot twist yang disajikan pun cukup baik, bahkan tebakan saya ternyata meleset dan saya nggak tahu kalau pelakunya justru tokoh itu.
Overall, bagi pencinta misteri-thriller-young adult, saya merekomendasikan novel ini untuk kalian. Gaya penyajian yang ringan bisa membuat kalian nyaman saat membacanya.
Rate: 2,5 dari 5


0 Comments