Judul : San Francisco
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Penerbit PT Grasindo
Terbitan : Cetakan Pertama, Juli 2016
Tebal Buku : 215 Halaman
ISBN : 978-602-375-592-9

“Aku pernah bermain dalam orkestra, sesekali. Setiap kali aku melihat konduktor bekerja, kupikir, tangannya itu kelihatan seperti sedang terbang di atas lautan musik. Gerakan tangannya itu sama indahnya dengan musik yang dia bimbing …. Tapi, ketika aku memainkan lagu itu, hari itu, aku menangis di panggung. Bukan karena lagunya yang sangat sulit dan aku berhasil memainkannya, tapi karena lagu itu indah. Indah sekali. Aku merasa lagu itu memelukku, dan rasanya hangat. Aku ingin mencari lebih banyak lagu yang bisa membuatku merasa seperti itu; ingin disayangi di lebih banyak panggung.”


San Francisco karangan Ziggy Z menceritakan tentang Ansel, sosok pria muda yang bekerja di Suicide Prevention Center. Pada hari pertamanya bekerja sebagai hotline, dia menerima telepon dari Rani, seorang gadis asal Indonesia yang ingin bunuh diri sekaligus ingin mendengarkannya bernyanyi. Ansel syok, apalagi gadis itu berkata kalau dia makin ingin bunuh diri ketika mendengarnya bicara. Pertemuan pertama mereka di Golden Gate Bridge ternyata membawa Ansel pada lika-liku percintaan yang sesungguhnya, hingga dia harus berani memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Ini adalah buku percintaan kedua dari Ziggy Z yang saya baca setelah Jakarta Sebelum Pagi. Meski San Francisco lebih dulu terbit, tapi saya akui kalau dua buku ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing dengan “jalur percintaan” yang cukup berbeda.

Hal pertama yang saya soroti dari San Francisco adalah riset musik yang dilakukan Ziggy sangat kompleks sekali. Saya kurang tahu apakah Ziggy memang menyukai dunia musik atau tidak, tapi dari cara dia menuturkan hal-hal berbau musik dalam novel ini, kelihatan sekali kalau dia benar-benar melakukannya dengan penuh semangat. Beberapa referensi musik atau info musik klasik tak jarang diselipkan di setiap bab lewat dialog antartokoh atau narasi.

“Hei, kalian tahu tidak kalau nama tengah Mozart sebetulnya bukan Amadeus? Ya, ya. Nama tengahnya yang asli adalah ‘Theophilus’. Amadeus adalah padanan bahasa Latin untuk namanya. Theophilus versi bahasa Yunani, dan nama ayah baptisnya. Tapi, ayahnya bilang namanya adalah ‘Gottlieb’, itu versi bahasa Jerman.”—halaman 150

Yang saya sukai lagi, Ziggy selalu membuat hal-hal “unik” dalam novelnya. Contohnya seperti tokoh Ansel yang wajahnya saja selalu minta ditindas, atau Rani yang gaya rambutnya mirip gunting. Tingkah laku tokoh-tokohnya pun menurut saya cerdas dan mudah dibedakan. Saya paling menyukai tokoh bernama Gretchen dan Dexter. Menurut saya, Ziggy sangat andal menggerakkan kedua tokoh itu ketika berinteraksi dengan Ansel. Lelucon-lelucon yang dilayangkan pun beberapa kali membuat saya tertawa. 

“Kau tidur sana. Untuk selamanya juga boleh. Tapi, kau tetap harus bangun untuk membuatkan sarapan dan makan siang. Cuma karena mau mati, bukan berarti kau boleh berhenti memasok makanan ke perut kami.”—halaman 45

Dari segi percintaannya pun pelan namun pasti. Ziggy benar-benar berhasil membuat saya gemas pada beberapa bagian tertentu. Contohnya saat Ansel dan Rani merendam kaki mereka dan menceritakan bagaimana asal-usul tato yang ada pada tubuh Rani.

Namun, ada banyak hal yang membuat saya kecewa dengan San Francisco. Pertama, interaksi Ansel dengan Rani yang memakai dialog berbahasa Inggris. Kalau memang Ziggy sengaja melakukannya agar tercipta sesuatu yang baru, saya tidak terlalu masalah. Tapi yang jadi masalah adalah kenyamanan saya saat membaca dialog mereka berdua. Bukan hanya selembar, tapi beberapa lembar saya harus membaca dialog bahasa Inggris beserta terjemahannya yang tidak hanya ada sekali. Jadi lebih baik, kalau menurut saya, pakai dialog bahasa Indonesia saja.

Rani mengangkat bahu. “No, idea. I wanna ride the carousel, but it’s past 5 …. Skating?” (Entah. Aku mau naik komidi putar, tapi ini sudah lewat jam 5 …. Skating?)—halaman 112

Bukan hanya itu, Ziggy juga tidak fokus pada tema yang ditentukan, love in the city. Latar San Francisco yang dibangun kurang kuat. Yang ada di kepala saya hanya Golden Gate Bridge, bukan San Francisco sepenuhnya. Saya juga terlalu sesak dengan info musik yang disuguhkan. Terlalu penuh dan fokus pada musiknya saja. Malah di beberapa bagian saya merasa ada yang terlihat seperti artikel. Untuk sisi depresinya pun belum terasa sama sekali—mungkin karena porsinya kalah dengan musikalisasi tokoh Ansel.

Overall, novel ini cocok bagi kamu yang gemar membaca kisah percintaan dengan nuansa berbeda. Bukan hanya itu, novel ini juga menyajikan hal-hal baru yang patut kamu baca. Di setiap lembarnya, kamu juga akan ditemani dengan gaya bahasa yang ringan hingga dibuat hanyut sampai halaman terakhir.

Rate: 2,75 dari 5