Judul : Pemetik Bintang
Penulis : Venerdi Handoyo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Cetakan Kedua, Juli 2019
Tebal Buku : 256 Halaman
ISBN : 978-602-06-2850-9

“Aku bukan hanya tidak lengkap. Aku sudah pecah, aku sudah terbelah. Apa pun itu, aku merasa kamu tidak semestinya terseret dalam hubungan dengan orang semacam aku.”


BLURB:
Rifat melewatkan hari-harinya berdua saja dengan Bapak, sejak dulu. Dalam kesunyiannya, dia bertemu dengan Nina yang sama-sama kesepian. Hubungan mereka kiat rekat, sampai suatu hari Nina pergi meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Dalam kehilangannya, hidup Rifat terus bergulir: berbenturan dengan masa lalu, bertumbukan dengan luka-luka lama, berkenalan dengan nilai-nilai baru. Ketika Nina datang kembali, masih adakah sisa-sisa Rifat yang dulu?

Pemetik Bintang mengisahkan tentang dua jiwa yang rapuh untuk saling melengkapi. Novel ini dibuka dengan sosok Rifat yang mencari keberadaan Nina, mendapat kertas yang bertuliskan RKL488, sampai cerita tentang seorang anak yang mengambil tangga dari bambu untuk memetik bintang di langit.

Novel dengan alur campuran ini kelihatannya cukup rumit, tapi beruntung gaya bahasa yang digunakan penulis sangat asyik sehingga saya dapat memahami apa yang ingin disampaikannya. Selain itu, saya merasa kalau penulis ingin menyampaikan banyak hal kepada pembaca, seperti pengalaman hidup dan spiritual.

“Segalanya bisa kita lakukan tanpa takut hukuman. Hukuman apa yang bisa dijatuhkan pada manusia yang hidup kekal? Dipindahkan ke neraka? Di neraka pun katanya kita akan disiksa selamanya. Berarti tidak mati-mati. Lama-lama kita akan terbiasa dengan segala siksaan itu dan tidak merasa sakit lagi. Apa bedanya dengan di surga? Hidup selamanya itu mengerikan sekali. Kapan kita akan benar-benar istirahat dengan tenang?”—hlm. 59

Dalam novel ini saya banyak menemui hal-hal baru, seperti nama-nama penulis dan penyanyi ternama zaman dulu. Di sini saya juga merasa kalau penulis ingin memperkenalkan mereka kepada pembaca, bahwa apa yang ada pada masa lalu tidak kalah bagus dengan sekarang. Ide yang bagus, dan saya sangat menyukainya.

“Akhir cerita tersebut membuatku melempar novel itu ke tembok kamar sambil tertawa dan mengumpat-umpat tanpa henti. Lalu, kuambil dan kusayang-sayang lagi buku itu. Itulah sebabnya aku tidak pernah bisa melupakan Pusaran.”—hlm. 136

Saya sangat menyukai tokoh bernama William, yang ternyata mengidolakan William Shakespeare dan akhirnya dipanggil Shakes oleh Rifat dan Nina. Menurut saya, karakter William-lah yang paling berjalan dengan lancar meski hanya sebagai tokoh pendamping. Bukan karena tokoh lain pergerakannya tidak lancar, tapi ada beberapa tone dan pola pikir tokoh yang menurut saya sama. Bahkan kadang saya hanya bisa membedakannya lewat nama tokoh saja.

Juga ada beberapa bagian yang menurut saya membosankan dan terlalu mengulur-ulur waktu sehingga ada beberapa halaman yang saya lewati. Tapi, yang paling saya sukai dari novel ini adalah bagian akhirnya. Saya cukup tidak menyangka kalau akhir kisahnya akan dibawa ke sana, meski ya di kehidupan nyata pasti kita pernah mengalaminya. Amanat yang disampaikan penulis pun menurut saya sangat kuat dan jelas sekali.

Overall, saya cukup suka dengan novel ini. Dan bagi kamu yang menyukai novel beraliran absurdisme, kamu wajib baca Pemetik Bintang (menurut saya begitu, dan inilah kelebihan paling menonjol di antara novel lokal yang ada, karena jarang mengangkat aliran ini). Alasan lainnya, kamu juga akan menemukan banyak benderang kehidupan yang bisa kamu rasakan sendiri. Sungguh? Ya, tentu saja.

Rate: 3,25 dari 5