APA YANG KAMU pikirkan ketika membaca novel dengan blurb seperti ini?
Sempati merasa kepalanya tak memberi solusi atas ragam persoalan. Kepalanya justru merepotkan, hingga membuatnya turut program Bebaskan Kepalamu—yang memungkinkan untuk menceraikan sementara kepalanya. Tanpa diduga kepala itu menghilang. Bahagiakah Sempati hidup tanpa kepala?
—Cara Berbahagia Tanpa Kepala, karangan Triskaidekaman
Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian.
Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.
—Semua Ikan di Langit, karangan Ziggy Zezsyazeoviennazabriezkie
Toru Okada dan Kumiko menjalani kehidupan rumah tangga yang tenang dan bahagia selama enam tahun. lalu kucing mereka menghilang dan sederet hal-hal ganjil menggayuti kenyataan: perempuan antah-berantah yang mengajak phone sex, gang yang tidak punya pintu masuk dan pintu keluar, peramal yang selalu mengenakan topi vinil merah, rumah mewah tak berpenghuni dan sumur kering, penatu misterius yang hobi mendengarkan musik, serta suara burung pegas dari halaman tetangga.
—Kronik Burung Pegas, karangan Haruki Murakami
Riuh rendah pipa dan drum panci yang berisik mengiringi kedatangan rombongan Gipsi ke Macondo, desa yang baru didirikan, tempat Jose Arcadio Beundia dan istrinya yang keras kepala. Ursula, memulai hidup baru mereka. Ketika Melqiades yang misterius memukau Ayreliano Buendia dan ayahnya dengan penemuan-penemuan baru dan kisah-kisah petualangan, mereka tak tahu-menahu arti penting manuskrip yang diberikan lelaki Gipsi tua itu kepada mereka.
Kenangan tentang manuskrip itu tersisihkan oleh wabah insomnia, perang saudara, pembalasan dendam, dan hal-hal lain yang menimpa keluarga Buendia turun-menurun. Hanya segelintir yang ingat tentang manuskrip itu, dan hanya satu orang yang akan menemukan pesan tersembunyi di dalamnya….
—One Hundred Years of Solitude, karangan Gabriel Garcia Marquez
Bagaimana? Sudah terpikirkan? Ya, terlihat sekali jika keempat novel di atas memiliki ide yang liar. Lantas, apakah kita bisa seperti itu? Mari temukan jawabannya!
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan; cita-cita. Sedangkan dalam fiksi, secara harfiah, ide berarti gagasan atau sesuatu yang merupakan buah pemikiran penulis/pengarang yang akan disampaikan kepada pembaca. Ide juga dapat menjadi tolak ukur penulis/pengarang untuk mengembangkan atau mempersempit buah pemikiran. Sederhanya, ide adalah gambaran kasar yang harus dipegang oleh penulis/pengarang.
Ide dapat dikembangkan menjadi premis, dan premis dapat dikembangkan menjadi hal yang lebih kompleks. Tanpa adanya ide, segala sesuatu yang ingin disampaikan penulis/pengarang tentu tidak dapat tersalurkan.
Yang menjadi permasalahan di era sekarang: banyak penulis/pengarang pemula mengecap ide adalah hak yang paten atau hak yang perlu dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Padahal, dari zaman Franz Kafka, Albert Camus, bahkan sampai Tere Liye, tidak pernah ada ide yang baru. Ide hanya bisa didaur ulang. Lantas, bagaimana ide yang sudah didaur ulang itu? Apakah setelah didaur ulang bisa tetap menarik? Dan, yang paling penting, apakah ide tersebut bisa dikatakan cerdas?
Novel dengan ide cerdas di Indonesia menurut saya hanya sedikit. Sedikit sekali. Bisa dihitung pakai jari. Sedangkan sisanya hanya berupa hiburan semata alias popular (dan tentu saja kebanyakan stereotip). Arswendo Atmowiloto, Putu Wijaya, Eka Kurniawan, Budi Darma, dan pengarang lokal lain misalnya, adalah contoh pengarang cerdas di Indonesia. Keberadaaan mereka patut diapresiasi setinggi mungkin. Tanpa adanya mereka, mungkin Indonesia sudah tidak akan memiliki novel-novel berkualitas.
Saya tidak merendahkan novel-novel pop di Indonesia, tapi yang menjadi permasalahannya adalah sisi stereotip atau kelatahan para penulis/pengarang masa kini yang selalu mengikuti tren. Mengikuti tren memang baik, tapi stereotip tidaklah baik. Apa maksudnya mengikuti tren? Coba perhatikan. Sejak karakter badboy dengan sikap segingin es, berandalan tapi pintar, wajahnya kelewat rupawan, dan jatuh cinta pada goodgirl, mulai hadir dan banyak yang suka, maka banyaklah penulis/pengarang zaman sekarang yang mengikutinya. Begitu pula tren genre rumah tangga yang kebanyakan membahas poligami atau pelakor di salah satu grup Facebook. Apalagi ternyata kisah-kisah seperti itu sudah banyak berjejer rapi di pelbagai toko buku dan mengisi jajaran rak bestseller. Sekali lagi, saya tidak bermaksud merendahkan, tapi hal-hal seperti itu tidaklah baik. Sebagai penulis/pengarang, kita butuh inovasi yang nyata, tidak setengah-setengah.
Maksudnya bagaimana?
Daur ulang ide tersebut! Jauhilah stereotip! Buatlah yang berbeda!
Yang jadi pertanyaannya, bagaimana cara membuat ide agar berbeda?
Ini tergantung kamu. Ya, kamu. Kata Bapak Pamusuk Eneste, penulis itu terbagi menjadi tiga golongan: penulis yang gampang; penulis yang susah; dan penulis yang susah-susah gampang. Nah, kalau kamu termasuk golongan penulis yang gampang, membuat ide yang berbeda pun akan terasa gampang. Begitu juga golongan penulis lainnya. Tapi saya yakin kamu pasti bisa. Kamu adalah penulis/pengarang yang hebat. Kamu pasti bisa!
Sebelum saya menjelaskan apa saja yang harus kamu lakukan untuk membuat ide, saya akan memberi tahu bagaimana proses pengarang besar zaman dulu meramu ide hingga bisa menciptakan sebuah buku yang berkesan.
“Saya tidak tahu apakah saya beruntung atau tidak, mempunyai imajinasi yang kadang-kadang ganas dan melonjak-lonjak. Imajinasi adalah sesuatu yang tidak ada, kemudian menjadi ada dalam alam pikiran saya. Mungkin saya beruntung, karena imajinasi adalah salah satu modal kepengarangan saya. Tanpa imajinasi, mungkin saya hanyalah seorang ayah yang baik, seorang dosen yang jempolan, dan seorang pejabat perguruan tinggi yang dihormati, ini kalau saya boleh menilai diri saya sendiri demikian. Mungkin juga saya tidak beruntung. Karena imajinasi saya sering menyiksa, menakutkan, dan tampak mengada-ngada tapi memang ada.”—Budi Darma, bagian Mulai dari Tengah, Proses Kreatif 2, karangan Pamusuk Eneste
Imajinasi Budi Darma yang paling dia ingat adalah saat menaiki kereta dari Madiun ke Surabaya. Saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang sehabis menyelesaikan perlawatan untuk membenahi salah satu perguruan tinggi swasta di Madiun. Lalu, di dalam kereta itu Budi Darma seolah melihat sebuah pesawat terbang yang menabrak gunung. Sampai pada malam harinya, Budi Darma selalu menyetel radio dan membaca koran untuk memastikan pesawat terbang yang jatuh menabrak gunung tersebut. Akan tetapi, berita itu tidak ada. Budi Darma heran, sebab seingatnya pesawat itu datang menggebu-gebu lalu menukik gunung dengan hantaman yang keras. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, pesawat terbang yang pernah Budi Darma temui ternyata datang lagi. Budi Darma lantas sadar bahwa pesawat itu hanyalah imajinasi. Lalu dia membuat beberapa cerpen tentang pesawat terbang. Dan cerpen yang paling bersangkutan mengenai pesawat terbang yang mengusik pikirannya itu adalah “Dua Laki-Laki” (Horison, April 1974).
Jika kamu menilik bagaimana proses Budi Darma menciptakan ide, kamu pasti akan sependapat dengan saya bahwa ide bisa datang kapan pun, di mana pun, dan bagaimanapun caranya. Dua Laki-Laki lahir karena imajinasi Budi Darma. Memang sudah pada dasarnya imajinasi Budi Darma itu liar, maka tak heran buku-bukunya pun amat mencengangkan, terutama yang paling fenomenal, Orang-Orang Bloomington banyak dinikmati publik.
Tapi kamu tidak perlu khawatir, sebab kamu juga pasti bisa melakukannya. Semua orang bisa melakukan apa yang dia inginkan. Yang terpenting hanya satu: niat. Jadi, meskipun nanti saya sudah memberikan penjelasan tapi kamu tidak pernah ada niat untuk mempraktikkannya, maka sia-sialah kamu ada di sini; juga kamu akan terus merangkak dalam jurang kelatahan tren penulis-pengarang lokal zaman sekarang.
BERIKUT TIGA CARA MELIARKAN IDE.
1. Peka terhadap hal-hal di sekitarmu
Menurut Budi Darma, kepekaan adalah kemampuan menembus apa yang tidak terlihat, tidak terasa, dan tidak terpikirkan. Bahkan, kepekaan adalah kemampuan untuk mengadakan sesuatu yang tidak terjangkau oleh orang lain. Kepekaan seorang pengarang tentu berbeda dengan kepekaan pengarang lain. hal ini dikarenakan sisi sensitiftas yang dimiliki oleh pengarang itu sendiri. Sebagai pengarang, saya kerap memperhatikan apa yang ada di sekitar saya. Contohnya saat saya sedang berada di stasiun atau di dalam kereta. Saya kadang memperhatikan bagaimana cara petugas kebersihan mengepel lantai kereta, bagaimana kelakuan orang-orang di kereta, dan sebagainya. Hal-hal sederhana tersebut ternyata mampu merangsang imajinasi saya untuk berpikir liar (tentu saja dalam konteks yang positif).
Hal inilah yang kurang menjadi perhatian penulis/pengarang zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka menginginkan ide yang ‘wah’ tanpa tahu bagaimana cara mencari tahu lebih dalam. Dan ujung-ujungnya malah jadi stereotip.
Contoh kepekaan seorang pengarang besar (dan lagi-lagi saya mengambil contoh Budi Darma) seperti Budi Darma. Dia pernah membayangkan seorang gadis bernama Ogel di dalam bus. Lalu dia membayangkan bagaimana jika gadis itu sendirian, bagaimana tengkuknya, bagaimana aroma tubuhnya, bagaimana bau ketiaknya, apa masalah yang sedang melandanya, kenapa dia bisa sendirian di dalam bus, di mana keluarganya, apakah dia punya suami atau belum, kalau sudah bagaimana rupa suaminya, apakah dia ada masalah dengan suaminya atau tidak, dan sebagainya. Hal tersebut dapat Budi Darma bayangkan ketika dia memang melihat seorang gadis di dalam bus. Dia peka. Dia merangsang otaknya untuk berpikir kira-kira apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Dan tentu saja, Budi Darma seolah-olah menjadi gadis itu.
Bukan hanya manusia atau benda hidup, kamu juga harus peka dengan benda-benda mati. Contohnya dalam novel Semua Ikan di Langit karangan Ziggy Z. Bisakah kamu bayangkan jika sebuah bus damri yang hanyalah benda mati ternyata bisa memiliki ruh? Atau contoh dari binatang seperti cerpen Metamorfosis karangan Franz Kafka? Bisa kamu bayangkan seekor kecoak justru menjadi ikon dalam cerpen tersebut? Ya, manusia yang berubah menjadi kecoak. Bukankah kedua contoh tersebut berasal dari hal-hal sederhana? Bus dan kecoak, bukankah itu dua hal yang tidak terpikirkan jika kita tidak peka terhadap lingkungan sekitar? Jadi, pentingkah kepekaan bagi seorang penulis/pengarang? Sudahkah kamu memiliki kepekaan? Dan, seberapa besarkah kepekaan tersebut?
2. Jadilah karaktermu dan kenalilah karaktermu
Setap cerita pasti memiliki tokoh atau karakter. Karakter adalah penggerak cerita. Tanpa adanya karakter, maka cerita tidak akan pernah ada. Karakter sendiri terbagi menjadi dua (menurut James N. Frey): karakter round (karakter utama/protagonis) dan karakter flat (karakter pendukung). Persoalan mengenai karakter ini banyak sekali. Jadi saya membaginya ke dalam tiga poin.
a. Watak
Karakter tanpa watak itu bagaikan makanan tanpa bumbu penyedap. Lantas bagaimana cara meliarkan ide melalui karakter? Gampang-gampang susah jika kamu termasuk orang yang agak malas. Pertama, kamu harus mengetahui bagaimana keadaan fisiologis alias bentuk fisik tokohmu. Apakah ini hal penting? Tentu saja. Dari bentuk fisik, kamu bisa mengembangkannya menjadi hal yang tidak terduga. Misalnya saja dalam novel Rafilus karangan Budi Darma (oh, lagi-lagi beliau. Haha). Rafilus dikatakan memiliki fisik yang perkasa. “… bahwa sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, melainkan besi. Kulitnya hitam mengilat, seperti permukaan besi yang sering dipoles dan hampir tidak pernah berhenti digosok.”—Rafilus, karangan Budi Darma. Ternyata, fisik Rafilus tersebut bukan hanya tempelan. Ya, betul, karena menuju bagian ending kita akan mengetahui bagaimana dampak tubuh Rafilus terhadap dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Atau contoh lain seperti Wanita Berambut Merah dalam novel The Red-Haired Woman karangan Orhan Pamuk. Tentu saja dalam novel itu dijelaskan bagaimana daya pikat si Wanita Berambut Merah terhadap orang-orang di sekitarnya juga.
Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa kondisi fisik bisa mengembangkan ide tulisan asalkan kita bisa memikirkannya dengan baik. Kalau memang kita mau mengembangkan ide lewat kondisi fisik, yang harus kita perhatikan adalah dampaknya terhadap karakter itu sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Kedua, keadaan psikologis dan sosiologis karakter. Bagian ini yang butuh perhatian khusus karena akan menyangkut langsung mengenai watak tokoh. Kamu harus mengetahui betul seperti apa karaktermu: apa hobinya, apa kesukaannya, apa yang tidak dia sukai, apa yang paling dia benci, apakah dia sudah punya pacar atau belum, apakah karaktermu ini pernah merasakan kehilangan atau tidak, apakah dia pernah mendapat kekerasan baik fisik maupun batin, apa tanggapannya jika orang terdekatnya mengalami masalah, bagaimana tanggapannya jika salah satu keluarganya ada yang meninggal, apakah dia suka keramaian, apakah dia suka kesepian, dan lain-lain. Tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan penting dan tidak penting pada tokohmu. Buatlah dia seolah-olah hidup. Lalu berikanlah ruh pada dirinya dengan terus mengajaknya bicara. Ini cara yang efektif bagimu untuk terus menggali bagaimana sih karaktermu itu. Jadikanlah dirimu sebagai ‘tempat sampah’ bagi si karakter. Buang segala hal ketidaknyamananmu saat bercengkerama dengan karakter. Kamu dan karaktermu harus sama-sama nyaman, agar semua hal dalam karaktermu bisa bebas keluar tanpa perlu ada yang disembunyikan.
Banyak sekali novel yang menggali ide lewat karakter. Contohnya novel Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya karangan Haruki Murakami. Novel itu bermula karena Tsukuru, sang tokoh utama, bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa keempat sahabat sekolahnya menjauhinya (ini keadaan sosiologis). Dari situ, ternyata Murakami benar-benar mengembangkan keadaan sosiologis Tsukuru dengan baik. Dia membuat Tsukuru terjerat dalam beberapa teka-teki. Bagaimana ketiga masalahnya ini terpaksa melakukan ‘sesuatu’ kepada Tsukuru karena salah satu sahabatnya mengalami ‘sesuatu’ juga. Plot demi plot disusun karena berasal dari keadaan sosiologis. Dan menurut saya, Murakami termasuk pengarang yang andal dalam urusan plot.
Atau contoh lain novel Rooftop Buddies karangan Honey Dee. Novel itu bermula karena penyakit salah satu karakter utamanya, Rie (ini keadaan psiologis). Tanpa adanya penyakit itu, mungkin jalan cerita dalam novel Rooftop Buddies akan berlangsung biasa saja. Pengembangan plotnya juga akan terbatas dan hanya seputar hubungan lawan jenis, dan jatuhnya justru stereotip.
Satu lagi yang hampir terlupakan: ciptakanlah karakter yang simpatik.
b. Tujuan
Sebetulnya ini yang paling penting dalam penciptaan karakter: tujuan. Tanpa adanya tujuan, karakter tidak bisa berjalan—juga akan berdampak pada plot. Banyak novel yang mengawali ide dari tujuan. Ini agak biasa, tapi bisa menjadi luar biasa ketika kita menyambungkannya dengan hasrat dan pemicu.
Hasrat adalah keinginan atau harapan. Setiap manusia pasti memiliki hasrat; hasrta untuk makan, hasrat untuk mandi, hasrat untuk tidur, dan sebagainya. Tokoh atau karakter adalah jelmaan manusia (mempunyai kelebihan dan kekurangan). Oleh karena itu, pastilah memiliki hasrat. Setiap hasrat dalam karakter, pasti memiliki maksud tertentu, dan itu dapat dikembangkan. Contoh dalam novel Ketika Sakura Mekar karangan Fiane N. Setiady, pada bab pertama, Sophie ingin mengajak Robby pergi ke tempat teman-temannya. Itu salah satu bentuk hasrat. Lalu bagaimana pengembangan idenya? Ya, terjadi konflik kecil di antara mereka. Untuk pengembangan idenya sendiri bisa dibawa ke keadaan psikologis, seperti akan apa yang Sophie atau Robby lakukan selanjutnya, dsb. Atau bisa juga ketika Andre dan Bella (masih dalam novel Ketika Sakura Mekar) berniat mencari Sophie yang meninggalkan rumah (ini juga hasrat). Lalu tibalah pengembangan idenya dengan memasukkan pemicu. Ada hasrat pasti ada pemicu.
Pemicu bisa hal apa saja; tokoh; keadaan; dll. Saya masih mengambil contoh di atas, yakni saat Sophie mengajak Robby ke tempat teman-temannya. Nah, hasratnya sudah kita ketahui, sedangkan Robby di sini sebagai pemicu lantaran ketika Sophie mengajaknya, Robby menolak, lalu timbullah konflik kecil di antara mereka.
Lantas bagaimana dengan tujuan? Sederhana saja, kalau tujuan yang kamu bikin kuat, pasti akan banyak hasrat dan pemicu dalam ceritamu. Buat tujuan itu seolah-olah nyata dan si tokoh atau karakter harus bisa mencapainya. Tapi jangan lupa bumbui dengan kegagalan.
c. Latar belakang
Ini yang paling menarik tapi justru jarang sekali digunakan. Setiap karakter pasti tidak mungkin berdiri gitu saja, kan? Pasti ada hal yang menjadi latar belakangnya. Contoh dalam novel Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan. Dalam novel itu latar belakangnya kuat sekali dan kompleks. Eka Kurniawan bukan hanya menceritakan satu latar belakang karakter ceritanya saja, melainkan banyak karakter dari beberapa generasi. Dan hal itu yang menjadi pegangan kuat Cantik itu Luka.
Latar belakang yang kuat biasanya ada karena tradisi. Misalnya saja dalam novel Like Water for Chocolate karangan Laura Esquivel. Ada tradisi bahwa anak bungsu perempuan dalam novel tersebut diharuskan merawat ibunya sampai tua dan tidak boleh menikah. Di situ tentu saja mengandung unsur magis yang menjadi daya tariknya. Apalagi tradisi tersebut turun-temurun, pasti akan ada banyak cerita-cerita berikutnya.
3. Hidupkanlah latar ceritamu
Menurut KBBI, latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Dalam hal ini yang saya bahas adalah latar tempat. Latar tempat adalah salah satu hal paling penting dalam cerita. Pengembangan ide yang berakar dari latar tempat biasanya cerita bergenre fiksi ilmiah dan fantasi, atau beberapa cerita yang menggunakan world building yang kental. Kalau kamu mengembangkan ide lewat latar tempat, kamu harus tahu betul bagaimana tempat ceritamu. Karena jika kamu salah langkah, maka ide tidak akan bisa berkembang.
BERIKUT CARA MEMBATASI IDE.
Jika idemu sudah dikembangkan dengan baik, maka saat mulai menuliskannya kamu harus bisa membatas ide-ide tersebut. Jangan sampai ada yang melebar dan justru menjadi bumerang bagimu. Kamu harus membuat pagar-pagar khusus (dalam hal ini adalah outline) yang bisa membatasi ide tersebut. Ingat, juga hukum kausalitas. Sebab, batasan penting ide juga adalah kausalitas.
Semoga bermanfaat.

0 Comments