Selamat datang, Sobat Baca. Pembahasan kali ini seputar QnA yang saya adakan di postingan WhatsApp beberapa waktu lalu ya. Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih atas pertanyaan-pertanyaannya yang luar biasa, dan inilah sepuluh pertanyaan terbaik versi Sobat Baca.


Q: Kak, aku mau tanya. Aku tuh kalau dapat imajinasi suka lancar, tapi pas mau menentukan judul kok susah banget, sih? Malah kadang aku suka bikin judul yang aneh dan nggak jelas. Kalau menurut Kaka gimana cara mengatasi hal itu?
A: Alhamdulillah kalau imajinasimu selalu lancar. Soalnya banyak penulis/pengarang yang punya masalah sama imajinasi mereka yang katanya kadang tersendat-sendat, termasuk saya. Tapi, yang jadi masalahmu bukan itu, kan? Untuk pemilihan judul sebetulnya banyak cara yang bisa kita lakukan.

Ini langkah-langkah yang biasanya sering saya lakukan pas menentukan judul. Pertama, saya harus tahu atau paham apa yang mau saya buat. Kalau sudah paham, biasanya saya bakal gali dulu sedikit kira-kira ceritanya lebih cocok dibawa ke mana. Kedua, saya mulai menulis. Selama proses menulis ini kadang saya nggak memberikan judul dulu, kadang juga beri judul tapi judul yang acak. Nah, pas selesai menulis saya baru kasih judul yang sebenarnya.

Terus gimana cara menentukan judul? Susah-susah gampang. Setelah kamu tahu apa yang kamu tulis, kamu bisa lihat tulisanmu dari berbagai sudut pandang. Di sini kamu harus sudah benar-benar paham apa isi tulisanmu, jangan sampai nggak paham. Kalau sudah, kamu bisa tarik beberapa hal, seperti ide pokok, latar, tujuan, dan sebagainya. Setelah itu kamu mulai buat beberapa judul dari hal-hal yang sudah saya sampaikan. Judul apa saja bebas, asalkan yang berkaitan dengan tulisanmu. Kalau sudah, kamu bisa pangkas dan tarik judul yang paling menonjol atau mencakup keseluruhan isi tulisan dari judul-judul yang sudah kamu buat. Sekarang coba praktikan!


Q: Bagaimana cara membuat tulisan fiksi terlihat logis walau itu fantasi sekalipun?
A: Kamu perlu ingat satu hal, kalau dalam fiksi itu harus ada kausalitas. Apa itu kausalitas? Hubungan sebab-akibat. Jadi, dalam fiksi kausalitas cerita itu harus jelas. Contohnya dalam novel Rooftop Buddies karangan Honey Dee. Nah, di sana sang tokoh protagonis, Rie, pergi ke suatu tempat bersama Bree. Kepergian mereka pasti ada sebabnya, kan? Nggak mungkin mereka pergi tanpa sebab, kan? Itulah namanya kausalitas. Kausalitas ini harus selalu ada di setiap tulisan fiksi. Jadi, baik tulisan bergenre percintaan atau bahkan fantasi sekalipun, harus tetap punya kausalitas. Menurut saya, kausalitas juga sebagai pagarnya tulisan fiksi. Jadi peranannya sangatlah penting. Lantas kalau nggak ada kausalitas, apa yang akan terjadi? Hanya satu, yakni ceritamu akan berlubang.


Q: Sebetulnya lebih penting mana antara tanda baca dan isi cerita, Kak?
A: Baik tanda baca maupun isi cerita sangatlah penting, karena dua hal itu pasti mendukung sebuah tulisan sedap dipandang dan dinikmati. Kalau kamu punya tulisan yang tanda bacanya berantakan, pasti banyak pembaca yang nggak mau baca tulisanmu. Begitu pun sebaliknya, kalau isi ceritamu banyak lubang, karakter nggak jelas, perpindahan plot yang terlalu cepat, pasti bikin pembaca nggak nyaman juga. Ibaratnya nih, tanda baca atau EBI itu sebagai baju, sedangkan isi cerita sebagai celana/rok. Hm, malu dong kalau keluar rumah nggak pakai baju atau celana/rok, kan? Begitulah.


Q: Kak, cara revisi tulisan yang baik itu seperti apa, sih? Aku nggak pernah puas sama hasil revisianku. Pasti selalu banyak kesalahan meski udah direvisi berkali-kali.
A: Yang menjadi pertanyaan saya, kapan kamu merevisi tulisanmu? Saat menulis atau sesudah menulis? Kalau saat menulis, berarti kamu sudah salah kaprah. Ingat, menulis dan merevisi itu dua pekerjaan yang amat berbeda. Kamu nggak bisa melakukannya dalam satu waktu. Kalau kamu merevisi tulisan sesudah menulis, kamu bisa perhatikan jawaban saya.

Pertama, setelah menulis, ada baiknya kamu mengendapkan tulisanmu dulu. Stephen King pun menyarankan begitu. Pengendapannya bisa seminggu, sebulan, atau setahun, tergantung dari tulisanmu sendiri. Loh, kenapa begitu? Iya, biar kamu sejenak melupakan tulisanmu itu, dan kepalamu jadi segar kembali tanpa ada banyak benang kusut yang memenuhinya. Selama proses pengendapan ini pun ada baiknya kamu melakukan banyak hal, seperti membaca buku dan mencari hiburan di sana-sini. Ini gunanya agar kepalamu nyaman dan bisa menyesuaikan saat kamu melihat tulisan yang dulu kamu tulis.

Terus, revisi itu nggak bisa dilakukan dalam satu waktu. Jadi pasti bakal berkali-kali, dan nggak heran kalau ada penulis/pengarang yang merevisi tulisannya sampai ratusan kali. Tapi saat mulai revisi kamu juga harus mengesampingkan egomu sebagai penulis/pengarang. Anggap saja kamu editor yang benar-benar harus membunuh setiap kata yang pernah kamu tulis. Hm, sebetulnya masalah revisi ini bakal panjang kalau dijabarkan. Mungkin di lain kesempatan saya bakal bikin diskusi khusus soal ini.


Q: Aku udah lama nggak menulis semenjak vakum beberapa tahun. Nah, cara biar aku nggak kaku pas mau menulis lagi itu gimana?
A: Perbanyak baca buku lagi agar membiasakan kepalamu. Bisa buku apa saja. Koran juga boleh. Inget apa kata Ernest Gaisen, hukum menulis itu ada enam: baca, baca, baca, tulis, tulis, tulis. Kalau kamu sudah biasa membaca dan bacaanmu bagus, pasti tulisanmu bakal bagus juga. Apa yang kamu tulis selalu mencerminkan bacaanmu.


Q: Tokoh yang paling disenangi pembaca itu yang seperti apa, Kak? Aku pengin bikin tokoh yang seperti itu. Biar memorable.
A: Tokoh yang punya tujuan utamanya jelas. Sering gagal saat mencapai tujuan utama tersebut, tapi selalu bangkit. Prosesnya juga selalu jatuh-bangun. Makanya bakal terlihat memorable. Apalagi pasar drama Indonesia itu kan yang sedih-sedih gitu, kalau tokoh protagonis selalu jatuh-bangun dalam mencapai tujuannya pasti bakal dikenang banget.


Q: Kak, gimana cara bikin page turner yang baik?
A: Page turner adalah sesuatu yang bikin pemabaca penasaran dan pengin balik terus halaman-halaman berikutnya. Kalau kata Mbak Jia Effendi, page turner ada karena bahaya dan kejutan. Dua unsur itu yang bakal memengaruhi pembaca untuk terus lanjut baca atau berhenti di tempat. Contoh bahaya itu ada pada novel Katarsis karangan Anastasia Aemilia. Pada novel itu, prolog yang disuguhkan sudah terlihat jelas bahayanya. Sosok tokoh protagonis yang ditemukan tak berdaya di dalam kotak perkakas. Contoh kejutan ada pada novel Lelaki yang Membunuh Kenangan karangan Faisal Tehrani. Pada novel itu, ada bab di mana tokoh protagonis terkejut karena mendapat kabar jika ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat, padahal sebelumnya dia menentang keras permintaan sang ayah.

Nah, dua hal itu bisa kamu jadikan untuk memperkuat page turner. Kalau kamu mau pakai dua-duanya, bahaya dan kejutan, silakan. Kalau mau pakai salah satu di antara mereka pun silakan, asalkan kamu harus pandai mengakalinya.


Q: Syarat utama untuk membuat plot twist itu seperti apa?
A: Saya kurang tahu apa syarat utama membuat plot twist. Tapi pastinya kalau buat plot twist itu harus dipikirkan matang-matang agar nggak salah kaprah. Terus usahakan tujuan kita bikin plot twist itu bukan karena pengin mengecoh pembaca. (Ingat, nggak ada plot twist yang berhasil seratus persen, karena pembaca itu pintar. Jangan pernah anggap pembacamu bodoh!) Tapi karena memang kebutuhan cerita.


Q: Gimana cara mulai belajar sintaksis?
A: Mulai dari sekarang, karena belajar sintaksis itu susah. Banget. Saya pun masih banyak salah sampai sekarang. Buat yang belum tahu apa itu sintaksis, sintaksis adalah ilmu tata kalimat. Karena ilmu sintaksis itu banyak banget, jadi saya kasih tahu yang mudahnya dulu. Gini, dalam satu kalimat itu harus mengandung subjek dan predikat. Kalau kalimat yang kamu tulis nggak mengandung salah satu atau dua hal tersebut, berarti itu bukanlah kalimat, melainkan frasa atau kumpulan kata. Tapi, dalam fiksi, kamu boleh menulis frasa kok. Contoh: Setap waktu. Setiap detik. Aku terus memikirkanmu.


Q: Kak, kasih aku rekomendasi novel yang bagus dong!
A: Novel apa? Semua novel itu bagus-bagus, nggak ada yang jelek. Jadi kalau mau kasih rekomendasi pun bingung. Apalagi buku bacaan saya belum banyak.


Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada Sobat Baca yang sudah bertanya. Mohon maaf apabila jawaban yang saya berikan kurang memuaskan. Tapi mudah-mudah bisa bermanfaat banyak. Aamiin.

Terima kasih.